Pomodo Logo IconPomodo Logo Icon
Tanya PomodoSemua Artikel
Semua
Fokus
Sains

Inovasi Teknologi Militer Tingkat Lanjut China

Share

China menunjukkan lonjakan inovasi dalam teknologi militer melalui pengembangan rudal glide hipersonik mini, senjata gelombang mikro berdaya tinggi, dan laser solid-state revolusioner. Upaya ini mencerminkan strategi nasional yang mengintegrasikan teknologi canggih untuk memperkuat pertahanan dan daya tawar militer, dengan peran serta penelitian dan pengembangan oleh lembaga-lembaga teknologi China.

11 Feb 2026, 19.00 WIB

China Kembangkan Senjata Gelombang Mikro untuk Hancurkan Satelit Starlink Elon Musk

China Kembangkan Senjata Gelombang Mikro untuk Hancurkan Satelit Starlink Elon Musk
China merasa terancam oleh jaringan satelit Starlink milik Elon Musk yang beroperasi di orbit rendah Bumi. Satelit-satelit ini dianggap bisa digunakan oleh Amerika Serikat untuk operasi militer yang bisa merugikan keamanan nasional China, terutama di wilayah konflik seperti Taiwan. Untuk menghadapi ancaman tersebut, ilmuwan China mengembangkan senjata gelombang mikro berdaya tinggi berukuran kecil yang disebut TPG1000Cs. Senjata ini memiliki kemampuan memancarkan daya hingga 20 gigawatt selama hampir satu menit, sebuah inovasi besar dibandingkan perangkat sebelumnya yang hanya dapat beroperasi beberapa detik. TPG1000Cs sangat portabel karena berukuran 4 meter dengan berat sekitar 5 ton, sehingga mudah dipasang di berbagai kendaraan militer seperti truk, kapal perang, hingga pesawat. Senjata ini memungkinkan serangan terarah yang kuat terhadap satelit Starlink yang mengorbit dekat Bumi. China juga telah membuat simulasi serangan dengan menggunakan satelit-satelitnya yang telah dilengkapi dengan laser dan gelombang mikro untuk melacak dan mengganggu satelit Starlink. Pengembangan ini bagian dari strategi China untuk menghadapi kemungkinan penggunaan Starlink dalam konflik militer di masa depan. Dengan kemajuan teknologi ini, China dapat menimbulkan ancaman serius terhadap operasi Starlink dan mempercepat perlombaan pengembangan senjata anti-satelit di dunia. Hal ini dapat memicu ketegangan lebih lanjut antara China dan Amerika Serikat di ruang angkasa.
08 Feb 2026, 19.15 WIB

Teknologi Gelombang Mikro China Bisa Guncang Jaringan Satelit Global

Teknologi Gelombang Mikro China Bisa Guncang Jaringan Satelit Global
China baru-baru ini mengembangkan teknologi militer canggih berupa senjata gelombang mikro berdaya tinggi yang lebih kecil dan efisien bernama TPG1000Cs. Alat ini dikembangkan oleh para ilmuwan di Institut Teknologi Nuklir Barat Laut di Xi'an, yang memiliki potensi mengubah persaingan senjata luar angkasa dunia. Senjata ini dapat meluncurkan pulsa gelombang mikro hingga 20 gigawatt, jauh lebih kuat dari sistem sebelumnya yang hanya sekitar 1 gigawatt. Keunggulan utama senjata ini adalah kemampuannya melumpuhkan elektronik satelit tanpa menghancurkannya secara fisik, sehingga menghindari puing berbahaya di orbit. TPG1000Cs memiliki ukuran sekitar empat meter dan berat lima ton, membuatnya lebih mudah dipasang pada berbagai platform senjata daripada sistem lama yang lebih besar dan berat. Senjata ini juga mampu beroperasi stabil selama satu menit penuh, dengan akumulasi hingga 200.000 pulsa kuat. Teknologi ini dinilai penting karena dapat mengganggu layanan satelit orbit rendah seperti Starlink, jaringan komunikasi yang sangat vital dan telah digunakan untuk mendukung komunikasi di wilayah konflik seperti Ukraina. Hal ini menandai potensi China unggul dalam perlombaan teknologi militer luar angkasa terhadap Amerika Serikat dan Rusia. Pengembangan ini dipercepat berkat penggunaan bahan isolasi cair khusus bernama Midel 7131 dan teknologi pembentuk pulsa canggih. Meskipun belum dioperasikan secara luas, senjata ini menunjukkan arah baru dalam teknologi perang di luar angkasa yang lebih aman dari puing namun tetap efektif.
06 Feb 2026, 20.00 WIB

Misil Hipersonik Kecil China Bisa Tembak Pesawat Jarak 20 Km di Kecepatan Mach 6

Misil Hipersonik Kecil China Bisa Tembak Pesawat Jarak 20 Km di Kecepatan Mach 6
Para ilmuwan dan insinyur di China sedang mengembangkan sebuah misil hipersonik kecil yang sangat canggih dan dapat ditembakkan dari meriam anti-pesawat berukuran 80 mm. Kecepatan misil ini sangat tinggi, mendekati Mach 6, sehingga jauh lebih cepat dibandingkan peluru konvensional dari meriam biasa. Misil tersebut mampu menyerang target seperti pesawat tempur atau drone dari jarak lebih dari 20 kilometer dan pada ketinggian sekitar 10.000 meter. Keunggulan utama dari misil ini adalah kecepatannya yang luar biasa dan bentuknya yang kecil sehingga sulit dideteksi oleh musuh. Karena kecepatan tinggi dan ukuran kecilnya, pesawat musuh hanya dapat mengetahui keberadaan misil ini ketika jaraknya tinggal sekitar 3 kilometer saja. Ini membuat waktu reaksi pesawat musuh menjadi sangat singkat, hanya beberapa detik. Simulasi komputer menunjukkan bahwa misil ini dapat mengubah arah penerbangannya dengan sangat cepat bahkan jika pesawat target melakukan manuver ekstrem seperti belokan hampir 90 derajat. Kemampuan ini memberikan peluang keberhasilan serangan hingga 99 persen. Sistem meriam yang digunakan untuk meluncurkan misil ini bisa menembakkan sekitar satu butir setiap detik. Dengan biaya produksi yang rendah dan ketersediaan bahan yang melimpah, teknologi ini memiliki potensi besar untuk merevolusi cara pertahanan udara saat ini.
05 Feb 2026, 18.00 WIB

Senjata Microwave Kompak China Mengancam Satelit Starlink di Orbit Rendah

Senjata Microwave Kompak China Mengancam Satelit Starlink di Orbit Rendah
Di Xian, Cina, sebuah institut riset mengembangkan teknologi senjata microwave berdaya tinggi bernama TPG1000Cs. Perangkat ini sangat kecil dan ringan dibanding teknologi sebelumnya namun mampu menghasilkan tenaga yang sangat besar. TPG1000Cs dapat menghasilkan hingga 20 gigawatt selama satu menit penuh, menandai kemajuan signifikan dari teknologi sebelumnya yang hanya bisa bertahan beberapa detik dengan ukuran besar. Senjata ini dapat dipasang pada berbagai platform seperti truk, kapal perang, pesawat, bahkan satelit. Hal ini memberikan fleksibilitas yang tinggi bagi penggunaannya dalam berbagai misi militer. Menurut para ahli China, senjata microwave dengan output lebih dari 1 gigawatt bisa mengganggu atau bahkan merusak satelit Starlink yang beroperasi di orbit rendah bumi, jaringan komunikasi satelit penting milik SpaceX. Kemampuan baru ini membuat satelit Starlink menghadapi ancaman serius, yang berpotensi memicu perlombaan teknologi militer baru dalam perang elektronik dan pertahanan luar angkasa.
02 Feb 2026, 20.00 WIB

Terobosan Laser 158,9 nm Dapat Ubah Teknologi Komputasi Kuantum dan Industri

Terobosan Laser 158,9 nm Dapat Ubah Teknologi Komputasi Kuantum dan Industri
Para ilmuwan di Xinjiang Technical Institute of Physics and Chemistry berhasil menciptakan laser dengan panjang gelombang terpendek yang pernah dibuat, yaitu 158,9 nanometer. Laser ini menggunakan kristal bernama ammonium fluorooxoborate (ABF) yang dikembangkan lebih dari sepuluh tahun. Keberhasilan ini menandai pencapaian energi output tertinggi dalam jenis laser all-solid-state yang berukuran kecil dan mudah dipelihara. Teknologi laser ini berbeda dari sistem laser besar yang biasa digunakan, seperti laser berbasis gas plasma dan sinkrotron, karena ukurannya yang kecil seperti desktop dan biaya produksinya yang lebih rendah. Selain itu, sistem ini memiliki kemudahan dalam perawatan dan penggunaan di berbagai kondisi lingkungan termasuk suhu ruang. Panjang gelombang laser yang sangat pendek ini memungkinkan penggunaan teknologi ini di bidang-bidang canggih, antara lain komputasi kuantum, platform antariksa, manufaktur presisi, dan industri semikonduktor. Teknologi ini berpotensi meningkatkan efisiensi dan kualitas dalam proses manufaktur dan pengolahan data kuantum. Kristal ABF yang menjadi inti dari teknologi laser ini adalah hasil kerja keras para ilmuwan Tiongkok selama lebih dari satu dekade. Pengembangan ini merupakan bukti kemampuan riset yang maju dalam bidang fisika dan kimia yang bisa membawa kemajuan besar dalam teknologi laser. Dengan hasil penelitian ini, berbagai industri yang memerlukan teknologi laser canggih dapat menikmati keuntungan penggunaan sistem yang lebih kecil, stabil, dan hemat biaya. Terobosan ini membuka pintu bagi pengembangan alat dan teknologi masa depan yang lebih efisien dan berdaya guna tinggi.
30 Jan 2026, 18.00 WIB

Budidaya Duzhong di Gurun Gobi Tingkatkan Pasokan Karet Nasional China

China merupakan konsumen dan importir terbesar karet alam di dunia, terutama untuk mendukung sektor otomotif yang besar. Konsumsi tahunan karet alam diperkirakan melebihi 7 juta ton, dengan lebih dari 85 persen berasal dari impor. Ketergantungan yang tinggi ini menjadi perhatian serius bagi keberlanjutan industri dan keamanan pasokan dalam negeri. Duzhong, atau Eucommia ulmoides, adalah tanaman obat Cina yang memiliki nilai penting karena bisa menjadi sumber karet alam kedua terbesar di dunia. Selain digunakan dalam pengobatan tradisional, karet dari Duzhong memiliki kualitas tinggi yang membuatnya sangat dibutuhkan untuk produksi ban tahan tusukan dan material pelindung elektromagnetik. Namun, selama ini budidaya Duzhong lebih fokus di daerah tengah dan selatan China, khususnya di dataran Yangtze. Kondisi ini membatasi jumlah hasil panen dan proses ekstraksi karet yang rumit menjadi penghambat skala produksi yang lebih besar dan efisien. Inovasi terbaru muncul dari upaya mencoba menanam Duzhong di lokasi yang tidak biasa, yaitu Gurun Gobi. Percobaan ini berhasil dan tanaman justru tumbuh subur di lingkungan yang sangat berbeda dari habitat asalnya. Keberhasilan ini membuka peluang baru untuk meningkatkan produksi karet alam domestik. Dengan kemampuan Duzhong untuk beradaptasi dan memberikan kualitas karet tinggi, China kini dapat mengurangi ketergantungan impor karet alam. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat pasokan nasional dan mendukung sekaligus mengoptimalkan industri otomotif dalam negeri yang sangat besar.

Baca Juga

  • Terobosan Teknologi Energi Nuklir yang Muncul

  • Menerobos Batas Astrofisika: Menguji Relativitas dan Paradigma Materi Gelap

  • Mengungkap Peradaban Kuno: Bukti-Bukti Baru dari Indonesia dan Tiongkok

  • Fenomena Komet: Mengungkap Asal-usul Kehidupan dan Perjalanan Antarbintang

  • Peringatan Bencana yang Meningkat di Indonesia: Mempersiapkan Diri untuk Skenario Apokaliptik