Pomodo Logo IconPomodo Logo Icon
Tanya PomodoSemua Artikel
Semua
Fokus
Bisnis

Konvergensi Teknologi dan Energi Nuklir di Tengah Ketegangan Geopolitik

Share

Kerjasama strategis antara perusahaan teknologi dan sektor energi nuklir semakin meningkat, dengan kesepakatan dan inovasi yang dapat mengubah lanskap pasokan energi global. Inisiatif ini diharapkan mampu mengurangi dampak perubahan iklim dan memperkuat posisi geopolitik di tengah dinamika pasar energi yang kompleks.

11 Jan 2026, 23.15 WIB

Reaktor Nuklir Kecil: Harapan Baru di Tengah Tantangan Manufaktur Amerika

Reaktor Nuklir Kecil: Harapan Baru di Tengah Tantangan Manufaktur Amerika
Industri nuklir kini tengah mengalami kebangkitan setelah lama mengalami masalah pembangunan dan biaya yang melambung, terutama terlihat dari reaktor besar yang memakan waktu lama dan mahal. Startup nuklir mendapatkan kepercayaan besar dari investor dengan pendanaan mencapai 1,1 miliar dolar di tahun 2025 saja. Reaktor nuklir tradisional sangat besar dan rumit, sehingga sulit untuk dibangun dengan cepat dan efisien. Contohnya adalah proyek Vogtle 3 dan 4 yang mengalami keterlambatan dan pembengkakan biaya. Oleh karena itu, ide reaktor nuklir kecil dan modular menjadi semakin populer. Startup-startup nuklir kecil ingin memproduksi reaktor dengan ukuran yang lebih kecil sehingga dapat dibuat secara massal menggunakan metode manufaktur yang efisien. Dengan modularitas, mereka berharap dapat menambah kapasitas daya secara fleksibel dan biaya akan turun seiring dengan peningkatan produksi. Namun, masalah utama yang mereka hadapi adalah kurangnya pengalaman dan keahlian manufaktur di Amerika Serikat. Banyak material penting yang harus dibeli dari luar negeri, serta jumlah tenaga ahli manufaktur yang berpengalaman sangat terbatas karena industri ini sudah lama tidak aktif di AS. Cara terbaik untuk startup adalah memulai dengan produksi skala kecil yang dekat dengan tim teknis agar dapat terus memperbaiki proses manufaktur. Walaupun manfaat manufaktur massal tidak bisa diraih dalam waktu singkat, dengan ketekunan dan modularitas, para investor bisa semakin yakin bahwa biaya dan kualitas akan semakin membaik.
10 Jan 2026, 00.51 WIB

Meta Dukung Tenaga Nuklir Modular Kecil untuk Pusat Data Masa Depan

Meta Dukung Tenaga Nuklir Modular Kecil untuk Pusat Data Masa Depan
Meta hari ini mengumumkan tiga kesepakatan besar untuk menyuplai pusat data mereka dengan energi nuklir. Kesepakatan ini melibatkan satu startup, sebuah perusahaan energi kecil, dan perusahaan besar yang sudah mengoperasikan reaktor nuklir di AS. Upaya ini merupakan bagian dari strategi utama Meta untuk mendapatkan pasokan listrik yang stabil dan ramah lingkungan bagi pertumbuhan AI mereka. Salah satu perusahaan yang terlibat, Vistra, akan menyediakan total 2,1 gigawatt listrik dari dua reaktor nuklir yang saat ini sudah beroperasi di Ohio. Selain itu, Vistra akan meningkatkan kapasitas beberapa pembangkitnya sehingga dapat menghasilkan listrik lebih banyak pada awal 2030-an. Kesepakatan ini berdurasi 20 tahun dan diharapkan bisa langsung memenuhi kebutuhan listrik Meta dalam waktu dekat. Startup Oklo, yang juga telah masuk bursa saham melalui SPAC, akan memasok 1,2 gigawatt listrik dengan menggunakan reaktor modular kecil bernama Aurora Powerhouse yang masing-masing menghasilkan 75 megawatt. Mereka berencana membangun lebih dari 12 unit reaktor di Ohio dengan target awal pengoperasian pada 2030, meskipun masih harus melewati proses persetujuan dari Nuclear Regulatory Commission. TerraPower, startup yang didirikan oleh Bill Gates, membangun reaktor yang menggunakan sodium cair sebagai media penyimpan dan transfer panas. Reaktor ini mampu menyediakan 345 megawatt listrik dengan kapasitas penyimpanan tambahan 100 sampai 500 megawatt selama lebih dari lima jam. TerraPower bekerja sama dengan GE Hitachi untuk merakit pembangkit pertamanya di Wyoming, dan direncanakan memasok listrik ke Meta mulai 2032. Kesepakatan energi nuklir ini memperlihatkan tren baru bagi perusahaan teknologi besar untuk mengandalkan tenaga nuklir sebagai sumber listrik andalan pusat data mereka. Walaupun listrik dari reaktor nuklir konvensional saat ini paling murah, teknologi SMR masih menjadi harapan masa depan dengan potensi biaya yang lebih rendah melalui produksi massal.
09 Jan 2026, 18.11 WIB

Tiongkok Serukan Tindakan Internasional Hadapi Ambisi Nuklir Rahasia Jepang

Tiongkok Serukan Tindakan Internasional Hadapi Ambisi Nuklir Rahasia Jepang
Tiongkok baru-baru ini merilis laporan resmi sepanjang 30 halaman yang menilai ancaman nuklir dari Jepang. Dalam laporan tersebut, disampaikan bahwa Jepang mungkin sudah memproduksi plutonium tingkat senjata secara rahasia dan memiliki kemampuan buat mengembangkan senjata nuklir dengan cepat. Ini menjadi perhatian besar bagi stabilitas kawasan Asia Timur. Laporan itu juga mengutip pernyataan mantan Presiden AS, Joe Biden, yang sempat mengatakan bahwa Jepang memiliki kapasitas untuk memiliki senjata nuklir dalam waktu singkat. Biden menyampaikan hal ini saat berbicara dengan Presiden Tiongkok, Xi Jinping, meskipun waktu pastinya pernyataan itu disampaikan tidak dijelaskan secara jelas. Pihak Tiongkok dalam laporannya menyerukan agar komunitas internasional mengambil langkah konkret dan kuat guna mencegah Jepang melanjutkan atau memperkuat ambisi nuklirnya. Hal ini dianggap penting untuk menjaga perdamaian dan keamanan di wilayah Asia Timur yang sensitif. Reaksi dari pejabat Tiongkok atas pernyataan Biden sebelumnya memang belum muncul secara langsung di publik, tetapi laporan ini menunjukkan betapa seriusnya Tiongkok dalam mengawasi perkembangan militer Jepang. Ketegangan diplomatik kemungkinan akan meningkat antara kedua negara akibat isu ini. Ke depan, ada risiko perlombaan senjata nuklir di kawasan Asia Timur jika isu ini tidak ditangani dengan baik melalui dialog internasional dan pengawasan yang ketat. Berbagai negara harus waspada agar konflik ini tidak berkembang menjadi ancaman yang lebih serius bagi keamanan dunia.

Baca Juga

  • Konsolidasi Strategis Perusahaan Elon Musk dan Pengaruh Globalnya

  • Balapan Penerbangan China: Meningkatkan Pesawat Dalam Negeri dan Meninjau Peran Pilot

  • Kreator Mengkritisi Paradigma Baru TikTok

  • Pergantian Kepemimpinan di Arena E-Commerce Indonesia

  • Revolusi Legal Tech Berbasis AI: Transformasi Inteligensi Kontrak