Meta Dukung Tenaga Nuklir Modular Kecil untuk Pusat Data Masa Depan
Bisnis
Startup dan Kewirausahaan
10 Jan 2026
175 dibaca
2 menit

Rangkuman 15 Detik
Meta berinvestasi dalam tenaga nuklir untuk memenuhi kebutuhan energi pusat datanya.
Kesepakatan dengan perusahaan rintisan seperti Oklo dan TerraPower menunjukkan peningkatan minat terhadap reaktor modular kecil.
Pembangunan infrastruktur tenaga nuklir yang baru dapat membawa biaya yang lebih rendah dalam jangka panjang.
Meta hari ini mengumumkan tiga kesepakatan besar untuk menyuplai pusat data mereka dengan energi nuklir. Kesepakatan ini melibatkan satu startup, sebuah perusahaan energi kecil, dan perusahaan besar yang sudah mengoperasikan reaktor nuklir di AS. Upaya ini merupakan bagian dari strategi utama Meta untuk mendapatkan pasokan listrik yang stabil dan ramah lingkungan bagi pertumbuhan AI mereka.
Salah satu perusahaan yang terlibat, Vistra, akan menyediakan total 2,1 gigawatt listrik dari dua reaktor nuklir yang saat ini sudah beroperasi di Ohio. Selain itu, Vistra akan meningkatkan kapasitas beberapa pembangkitnya sehingga dapat menghasilkan listrik lebih banyak pada awal 2030-an. Kesepakatan ini berdurasi 20 tahun dan diharapkan bisa langsung memenuhi kebutuhan listrik Meta dalam waktu dekat.
Startup Oklo, yang juga telah masuk bursa saham melalui SPAC, akan memasok 1,2 gigawatt listrik dengan menggunakan reaktor modular kecil bernama Aurora Powerhouse yang masing-masing menghasilkan 75 megawatt. Mereka berencana membangun lebih dari 12 unit reaktor di Ohio dengan target awal pengoperasian pada 2030, meskipun masih harus melewati proses persetujuan dari Nuclear Regulatory Commission.
TerraPower, startup yang didirikan oleh Bill Gates, membangun reaktor yang menggunakan sodium cair sebagai media penyimpan dan transfer panas. Reaktor ini mampu menyediakan 345 megawatt listrik dengan kapasitas penyimpanan tambahan 100 sampai 500 megawatt selama lebih dari lima jam. TerraPower bekerja sama dengan GE Hitachi untuk merakit pembangkit pertamanya di Wyoming, dan direncanakan memasok listrik ke Meta mulai 2032.
Kesepakatan energi nuklir ini memperlihatkan tren baru bagi perusahaan teknologi besar untuk mengandalkan tenaga nuklir sebagai sumber listrik andalan pusat data mereka. Walaupun listrik dari reaktor nuklir konvensional saat ini paling murah, teknologi SMR masih menjadi harapan masa depan dengan potensi biaya yang lebih rendah melalui produksi massal.
Analisis Ahli
Dr. Emma Li, Pakar Energi Nuklir
Kesepakatan ini bisa menjadi game changer untuk transisi energi nuklir yang lebih modern dan fleksibel, terutama dengan penerapan SMR yang menjanjikan biaya dan waktu pembangunan yang lebih efisien.Prof. James Carter, Ahli Energi Terbarukan
Meskipun SMR berpotensi menurunkan biaya pada masa depan, masih banyak ketidakpastian regulasi dan teknis yang harus diselesaikan agar teknologi ini dapat diandalkan dan diterima luas.

