Meta Ciptakan AI Facebook yang Posting Setelah Kita Meninggal, Apakah Ini Bijak?
Courtesy of Forbes

Meta Ciptakan AI Facebook yang Posting Setelah Kita Meninggal, Apakah Ini Bijak?

Membahas kontroversi terkait pengajuan paten Meta untuk AI yang dapat memposting dan merespon di akun Facebook seseorang setelah ia tidak aktif atau meninggal, serta dampak sosial dan etisnya.

01 Mar 2026, 05.14 WIB
153 dibaca
Share
Ikhtisar 15 Detik
  • Paten Meta terkait AI yang dapat mensimulasikan pengguna yang sudah meninggal dapat menimbulkan masalah etis.
  • Proses berduka dapat terganggu oleh keberadaan akun yang terus aktif setelah seseorang meninggal.
  • Perusahaan media sosial sebaiknya fokus pada cara memberikan penutupan yang baik bagi keluarga pengguna yang telah meninggal.
Amerika Serikat - Meta mengajukan paten untuk sebuah AI yang dapat mensimulasikan kehadiran pengguna Facebook bahkan ketika mereka sudah meninggal atau tidak aktif. AI ini menggunakan model bahasa besar yang mempelajari pola dan gaya postingan pengguna sebelumnya untuk menanggapi pesan dan komentar seolah pengguna masih ada.
Meskipun paten ini sudah disetujui dan mendapat perhatian media, Meta memastikan belum ada rencana peluncuran teknologi ini dalam waktu dekat. Proposal ini menimbulkan kekhawatiran tentang etika dan dampak sosial, terutama terkait bagaimana proses berduka seharusnya terjadi di media sosial.
Penulis artikel mengusulkan agar platform sosial media lebih fokus pada menutup akun pengguna yang telah meninggal untuk memberikan kesimpulan yang layak dan menghormati, daripada memanfaatkan AI yang berpotensi menyulitkan keluarga atau teman dengan interaksi yang tidak alami.
Referensi:
[1] https://www.forbes.com/sites/johnbbrandon/2026/02/28/the-latest-bad-idea-for-ai-having-facebook-post-for-us-after-we-die/

Analisis Ahli

Dr. Anita Harjanto, Pakar Etika Digital
"Menggunakan AI untuk mewakili pengguna setelah kematian menimbulkan risiko besar terhadap privasi dan dapat memperdalam kesedihan daripada membantu proses berduka. Sosial media harus fokus pada penghormatan dan batasan etis dalam pengelolaan akun yang tak lagi aktif."

Analisis Kami

"Ide menggunakan AI untuk 'menghidupkan kembali' kehadiran digital seseorang yang telah meninggal sepertinya terlalu beresiko dan dapat melukai perasaan keluarga serta teman. Dalam era di mana keaslian dan privasi sangat dihargai, pendekatan yang lebih manusiawi adalah mematikan akun dan memberikan ruang untuk berduka, bukan memanfaatkan AI demi inovasi semu."

Prediksi Kami

Jika AI semacam ini sampai dikembangkan dan diluncurkan, kemungkinan besar akan menimbulkan masalah etika besar serta resistensi dari pengguna dan keluarga almarhum, sehingga media sosial harus membuat kebijakan ketat terkait penggunaan AI dalam akun orang yang sudah meninggal.