CEO Uber: Kerja Keras Jadi Kunci, Work-Life Balance Harus Dikompromikan
Courtesy of CNBCIndonesia

CEO Uber: Kerja Keras Jadi Kunci, Work-Life Balance Harus Dikompromikan

Memberikan gambaran nyata mengenai tuntutan kerja di Uber dan bagaimana CEO Uber melihat kerja keras sebagai nilai penting dalam budaya perusahaan serta pengaruhnya terhadap work-life balance.

26 Feb 2026, 12.50 WIB
89 dibaca
Share
Ikhtisar 15 Detik
  • Kerja keras adalah tuntutan utama di Uber dan tidak ada jaminan keseimbangan kerja-hidup.
  • CEO Uber menekankan pentingnya fokus dan ketahanan dalam menghadapi tantangan.
  • Karyawan masih dapat memiliki waktu untuk keluarga, tetapi harus siap untuk mengorbankan waktu pribadi.
Jakarta, Indonesia - CEO Uber, Dara Khosrowshahi, mengungkapkan bahwa bekerja di Uber menuntut kerja keras tinggi, bahkan di akhir pekan. Karyawan di Uber diharapkan untuk cepat merespon email dan tidak boleh santai jika ingin bertahan di perusahaan teknologi besar ini.
Khosrowshahi menjelaskan bahwa Uber sangat menuntut performa. Jika karyawan tidak menunjukkan hasil yang memuaskan, mereka akan diberi peringatan hingga akhirnya bisa dipecat bila tidak ada perbaikan. Hal ini menunjukkan tekanan kerja yang cukup tinggi di perusahaan ini.
Menurut Khosrowshahi, kerja keras adalah keterampilan penting yang harus dikembangkan generasi muda. Kerja keras melibatkan fokus, ketekunan meskipun gagal dan memiliki tekad kuat untuk mencapai tujuan, yang dianggapnya sangat penting dalam kehidupan.
Meskipun menuntut kerja keras, CEO ini menyatakan bahwa karyawan masih bisa meluangkan waktu untuk keluarga mereka. Namun, keseimbangan antara kerja dan kehidupan pribadi tetap harus melalui kompromi, seperti memeriksa pekerjaan saat makan malam atau pagi hari.
Dalam pandangan Khosrowshahi, bekerja di Uber tidak hanya soal kewajiban, tetapi juga kesenangan selama sudah bekerja dengan keras. Namun, ia memperingatkan bahwa orang yang ingin bersantai dan tidak berkontribusi maksimal sebaiknya tidak bergabung dengan Uber.
Referensi:
[1] https://www.cnbcindonesia.com/tech/20260226114104-37-714107/dunia-makin-kejam-ceo-minta-karyawan-balas-email-saat-weekend

Analisis Ahli

Adam Grant
"Kerja keras penting, namun tanpa manajemen stres dan keseimbangan, efektifitas jangka panjang karyawan akan turun."
Sheryl Sandberg
"Tekanan kerja yang tinggi bisa memicu inovasi, tapi juga harus diimbangi dengan dukungan agar tidak menimbulkan burnout."

Analisis Kami

"Budaya kerja keras yang ekstrem di Uber mencerminkan fenomena umum di perusahaan teknologi besar yang berorientasi hasil, tapi ini bisa berdampak negatif pada kesejahteraan mental karyawan. Perlu ada penyeimbangan yang lebih baik agar produktivitas tinggi tanpa mengorbankan kualitas hidup pribadi."

Prediksi Kami

Kultur kerja yang menuntut di Uber dapat menyebabkan tingkat stres tinggi di kalangan karyawan dan mungkin mendorong perusahaan lain mengikuti pola serupa, namun juga berpotensi menimbulkan tuntutan agar perusahaan lebih memperhatikan keseimbangan hidup dan kerja.

Pertanyaan Terkait

Q
Apa yang diungkapkan CEO Uber mengenai work life balance?
A
CEO Uber menyatakan bahwa karyawan tidak dapat berharap untuk memiliki work life balance yang baik karena tuntutan kerja yang tinggi, bahkan di akhir pekan.
Q
Mengapa kerja keras dianggap penting oleh Dara Khosrowshahi?
A
Khosrowshahi menganggap kerja keras sebagai keterampilan penting yang harus dikembangkan oleh anak muda, termasuk fokus, ketahanan terhadap kegagalan, dan tekad yang kuat.
Q
Bagaimana cara karyawan Uber membagi waktu antara kerja dan keluarga?
A
Karyawan masih dapat meluangkan waktu untuk keluarganya, namun harus ada kompromi dalam keseharian mereka.
Q
Apa yang terjadi jika karyawan tidak berkinerja baik di Uber?
A
Jika karyawan tidak berkinerja baik, perusahaan akan memberi tahu mereka dan jika tidak ada perbaikan, mereka bisa dipecat.
Q
Apa yang bisa karyawan lakukan di Uber setelah bekerja keras?
A
Setelah bekerja keras, karyawan diizinkan untuk bersenang-senang, tetapi tidak boleh mengharapkan lingkungan yang santai.