TLDR
Penggunaan AI di kalangan remaja meningkat, terutama untuk dukungan emosional dan percakapan santai. Orang tua cenderung lebih mendukung penggunaan AI untuk tujuan pendidikan dibandingkan untuk interaksi sosial. Terdapat kekhawatiran di kalangan profesional kesehatan mental mengenai potensi dampak negatif dari chatbot terhadap kesehatan mental remaja. Studi terbaru oleh Pew Research Center menunjukkan bahwa chatbot AI semakin menjadi bagian penting dalam kehidupan remaja Amerika Serikat. Remaja menggunakan AI untuk mencari informasi dan membantu pekerjaan sekolah, namun ada juga yang memakai AI untuk bercakap-cakap dan bahkan mencari dukungan emosional.Meskipun sebagian besar penggunaan AI diarahkan pada kebutuhan praktis, ada remaja yang memakai chatbot untuk menggantikan peran teman atau keluarga dalam berinteraksi sosial. Ini menimbulkan kekhawatiran dari para ahli kesehatan mental tentang potensi isolasi dan efek psikologis negatif yang dapat ditimbulkan.Terdapat ketidaksesuaian pandangan antara remaja dan orang tua tentang penggunaan AI. Banyak remaja yang menggunakan teknologi ini namun orang tua tidak sepenuhnya menyadari atau menyetujui penggunaan chatbot untuk percakapan santai dan dukungan emosional.Beberapa perusahaan pembuat chatbot mengambil langkah preventif seperti Character.AI yang membatasi penggunaan chatbot untuk usia di bawah 18 tahun, serta OpenAI yang menghentikan model GPT-4o yang sering digunakan untuk dukungan emosional, sebagai respons atas kasus-kasus serius yang berkaitan dengan kesehatan mental.Pandangan remaja tentang dampak AI di masa depan juga beragam, dengan sebagian menganggap AI akan membawa dampak positif dan lainnya mengkhawatirkan dampak negatif. Kontroversi dan perhatian terkait penggunaan AI sebagai alat dukungan emosional akan terus menjadi isu penting di masyarakat.