TLDR
Serangan siber yang melibatkan AI generatif dapat meningkatkan efektivitas peretasan. Keamanan konfigurasi firewall dan sistem cadangan sangat penting untuk mencegah serangan. Peretas dengan kemampuan teknis rendah dapat menggunakan AI untuk melakukan serangan yang lebih terencana. Serangan siber berbahasa Rusia yang berlangsung dari Januari hingga Februari 2026 berhasil membobol lebih dari 600 firewall FortiGate di 55 negara. Mereka tidak menggunakan celah zero-day, melainkan memanfaatkan antarmuka manajemen yang dapat diakses lewat internet dan kredensial yang lemah tanpa perlindungan MFA.Setelah berhasil masuk, pelaku meng-ekstrak data penting seperti kredensial SSL-VPN dan akun administrator. Data ini kemudian dianalisis dengan menggunakan alat berbasis Python dan Go yang dikembangkan dengan bantuan teknologi AI generatif agar serangan lebih terstruktur dan efektif.Serangan juga menyasar server cadangan menggunakan Veeam Backup & Replication untuk menurunkan kemampuan pemulihan file dari backup sebelum melancarkan langkah serangan selanjutnya seperti ransomware. Strategi ini memperlihatkan tingkat ancaman yang semakin serius dan terorganisir.Amazon dan laporan Google mengonfirmasi bahwa AI generatif seperti layanan Gemini semakin disalahgunakan dalam berbagai tahap serangan siber. Hal ini membuat serangan menjadi lebih cepat, efisien, dan mampu meningkatkan skala intrusi secara signifikan.Indonesia pun berpotensi terdampak jika konfigurasi keamanan firewall dan server cadangan tidak diperketat. Para pengguna disarankan untuk segera memperkuat sistem keamanan, seperti mengamankan antarmuka manajemen dan menerapkan multi-factor authentication untuk mencegah serangan seperti ini.