FBI Waspadai China Gunakan AI dalam Serangan Siber ke Infrastruktur Amerika
Teknologi
Keamanan Siber
16 Mei 2025
270 dibaca
2 menit

Rangkuman 15 Detik
Serangan siber yang dilakukan oleh kelompok yang didukung China semakin meningkat dan menargetkan infrastruktur kritis di AS.
Kecerdasan buatan memainkan peran penting dalam meningkatkan efektivitas serangan siber.
Perusahaan perlu meningkatkan pertahanan mereka dengan membatasi akses dan memperbaiki kerentanan dalam sistem mereka.
Amerika Serikat menghadapi gelombang serangan siber yang terus meningkat, yang diduga dilakukan oleh kelompok hacker dari China. Serangan ini menyasar infrastruktur penting seperti telekomunikasi, energi, dan perairan, serta memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) sebagai alat utama. FBI turun tangan untuk memberikan peringatan dan memantau aktivitas ini.
Menurut Deputi Asisten Direktur FBI, Cynthia Kaiser, AI memungkinkan para penyerang mempercepat proses serangan dan memetakan jaringan dengan lebih efektif. Setelah menyusup ke sistem, AI membantu dalam menentukan langkah penyerangan selanjutnya, sehingga tindakan menjadi lebih efisien dan berbahaya.
Kelompok Volt Typhon dan Salt Typhoon adalah contoh kelompok hacker yang menggunakan metode seperti memanfaatkan perangkat lama yang tidak mendapat pembaruan dan membuat botnet untuk menyerang. Mereka mampu bergerak secara lateral di jaringan, meningkatkan kesulitan dalam mendeteksi dan menghentikan serangan tersebut.
Selain serangan jaringan, AI juga dipakai untuk penipuan digital melalui teknologi deepfake. Contohnya adalah penyerang yang berpura-pura menjadi CEO lewat aplikasi pesan untuk meminta transfer uang secara mendesak, yang seringkali tanpa disadari oleh karyawan meninggalkan risiko besar bagi perusahaan.
FBI menegaskan pentingnya semua pihak meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat pertahanan siber. Mereka terus mengawasi bagaimana AI digunakan dalam serangan dan menegaskan bahwa meski pemerintahan berubah, komitmen untuk melawan kejahatan siber tetap kuat demi melindungi infrastruktur kritis negara.
Analisis Ahli
Bruce Schneier
AI memperluas kemampuan penyerang siber dengan otomatisasi dan kecerdasan yang memungkinkan serangan lebih cepat dan lebih sulit dideteksi, memaksa industri keamanan beradaptasi dengan cepat.Mikko Hypponen
Serangan berbasis AI adalah bagian dari gelombang serangan siber berikutnya, di mana pertahanan tradisional sudah tidak memadai dan dibutuhkan pendekatan inovatif untuk mitigasi risiko.


