TLDR
Cellebrite menghadapi kritik dan tuduhan penyalahgunaan alatnya oleh pemerintah di Kenya dan Jordania. Citizen Lab menemukan bukti penggunaan alat Cellebrite untuk meretas ponsel aktivis di kedua negara tersebut. Cellebrite sebelumnya menghentikan hubungan dengan negara-negara tertentu karena pelanggaran hak asasi manusia, tetapi respons mereka terhadap tuduhan terbaru menunjukkan perbedaan dalam pendekatan. Cellebrite adalah perusahaan pembuat alat hacking ponsel yang pernah secara terbuka berhenti bekerja sama dengan kepolisian Serbia karena alatnya digunakan untuk membobol ponsel jurnalis dan aktivis. Tindakan ini mendapatkan dukungan dari laporan Amnesty International yang mengungkap pelanggaran tersebut. Namun, sikap perusahaan mulai berubah ketika tuduhan serupa muncul di negara lain.Peneliti dari Citizen Lab di University of Toronto mempublikasikan laporan yang menuduh pemerintah Kenya dan Jordan menggunakan alat dari Cellebrite untuk membobol ponsel aktivis dan politikus. Mereka menemukan aplikasi khusus yang dilekatkan Cellebrite di ponsel korban. Jejak aplikasi ini ditemukan di database malware dan ditandatangani dengan sertifikat digital milik perusahaan itu.Cellebrite merespons tuduhan ini dengan menolak klaim tanpa bukti langsung dan menolak untuk berkomitmen dalam investigasi. Hal ini berbeda dengan sikap mereka dulu di kasus Serbia yang langsung memutus kerja sama. Mereka juga menolak membagikan informasi tentang pelanggan dan kriteria persetujuan penjualan alatnya.Sikap Cellebrite ini memicu kritik dari peneliti dan aktivis yang menuntut transparansi soal bagaimana perusahaan menyetujui pesanan dari lembaga pemerintah dan bagaimana mereka menindak penggunaan alat yang melanggar hak asasi manusia. Peneliti seperti John Scott-Railton mendesak perusahaan untuk mempublikasikan kriteria dan data penarikan lisensi penggunaan produk mereka.Cellebrite sebelumnya juga telah menghentikan penjualan di beberapa negara seperti Bangladesh, Myanmar, Rusia, dan Belarus setelah tuduhan penyalahgunaan muncul. Kasus di Kenya dan Jordan memperlihatkan bahwa ancaman penyalahgunaan alat hacking ponsel ini masih ada dan perlu pengawasan lebih ketat di masa depan.