
Courtesy of Forbes
Memahami Janji dan Batasan AI: Otonomi Lebih Penting dari Kecerdasan
Artikel ini bertujuan untuk mengklarifikasi debat seputar janji besar AI dengan memperkenalkan konsep otonomi sebagai ukuran objektif dari kemajuan AI, agar para pemimpin bisnis dan investor dapat memahami apa yang benar-benar sedang mereka hadapi dan mengevaluasi hype dengan tepat demi strategi yang lebih realistis.
26 Jan 2026, 20.15 WIB
37 dibaca
Share
Ikhtisar 15 Detik
- Menilai AI sebaiknya berdasarkan otonomi, bukan hanya kecerdasan.
- GenAI mungkin terlihat lebih menarik, tetapi predictive AI menawarkan potensi otonomi yang lebih tinggi.
- Keseimbangan antara hype dan realitas penting untuk pengambilan keputusan bisnis yang efektif di bidang AI.
Davos, Swiss - Di Davos, para pemimpin perusahaan AI terkemuka seperti Google DeepMind dan Anthropic membuat prediksi berani tentang hadirnya Artificial General Intelligence (AGI) dalam waktu dekat, yang akan mampu melakukan semua yang bisa dilakukan manusia. Meski prediksi ini mengexcite banyak orang, artikel ini mengajak kita untuk melihat lebih realistis dan memahami bahwa perdebatan tentang AI sering kali subjektif dan penuh hype.
Istilah kecerdasan sering digunakan untuk mengukur kemajuan AI, tapi sayangnya kecerdasan itu sendiri subjektif dan sulit diukur dengan adil. Setiap pengujian hanya menilai sebagian kecil kemampuan dan tidak dapat merepresentasikan keseluruhan kapasitas AI yang sebenarnya diperlukan untuk berfungsi secara penuh seperti manusia.
AGI adalah konsep AI yang paling ambisius, yakni mesin yang bisa melakukan semua hal yang manusia lakukan tanpa campur tangan manusia. Namun, mencapai AGI dalam waktu dekat sangat diragukan dan klaim tentang kemajuan menuju AGI juga sulit dibuktikan karena memerlukan pengujian langsung dalam tugas-tugas besar dan kompleks.
Sebaiknya kita gunakan otonomi sebagai tolak ukur kemajuan AI yang lebih konkret. AI yang otonom mampu mengotomatisasi banyak pekerjaan tanpa harus terus menerus diawasi manusia, dan ini tentu sangat berharga. Untuk saat ini, jenis AI prediktif yang sudah banyak digunakan dalam industri seperti memutuskan transaksi kartu kredit atau menampilkan iklan sudah jauh lebih otonom daripada generative AI yang masih harus diawasi.
Inilah paradox AI: Generative AI terlihat sangat manusiawi dan menjanjikan, tapi sebenarnya masih perlu pengawasan ketat dari manusia, sedangkan AI prediktif yang kurang glamor justru menyelesaikan jutaan tugas otomatis tanpa manusia. Oleh karena itu, perusahaan dan investor harus menempatkan proyek AI prediktif setara atau bahkan lebih tinggi dari generative AI dalam prioritas mereka untuk hasil yang nyata dan efisien.
Referensi:
[1] https://www.forbes.com/sites/ericsiegel/2026/01/26/the-ai-paradox-more-humanlike-means-less-autonomous/
[1] https://www.forbes.com/sites/ericsiegel/2026/01/26/the-ai-paradox-more-humanlike-means-less-autonomous/
Analisis Ahli
Stuart Russell
"Kemajuan AI sejati harus diukur dari sejauh mana sistem bisa bertindak secara mandiri dan tanggung jawab, bukan sekadar kegesitan dalam penampilan atau kemampuan spesifik."
Gary Marcus
"Hype AI sering kali menutupi keadaan sebenarnya yang masih sangat jauh dari AGI, dan kita harus mengarahkan sumber daya ke aplikasi praktis yang memberikan manfaat langsung daripada janji-janji masa depan yang spekulatif."
Analisis Kami
"Sangat penting untuk memindahkan fokus dari klaim-klaim ambisius yang tidak terukur menuju penilaian yang berbasis fakta dan hasil nyata, khususnya menggunakan otonomi sebagai tolok ukur keberhasilan AI. Tanpa kerangka ini, kita berisiko terjebak dalam gelembung harapan yang kemudian menyebabkan kerugian besar di sektor bisnis dan investasi."
Prediksi Kami
Masa depan AI kemungkinan akan didominasi oleh peningkatan sistem-sistem AI yang fokus pada otonomi operasional nyata seperti predictive AI, sementara janji AI umum tingkat manusia (AGI) tetap jauh dari kenyataan dalam dekade mendatang.
Pertanyaan Terkait
Q
Apa yang dijanjikan oleh CEO Google DeepMind dan Anthropic di Davos?A
CEO Google DeepMind dan Anthropic menjanjikan kedatangan kecerdasan umum buatan (AGI) dalam waktu dekat, dengan kemungkinan 50% terjadi pada tahun 2030.Q
Mengapa ada argumen tentang apakah AI terlalu dilebih-lebihkan?A
Ada argumen bahwa klaim tentang kemampuan AI sering tidak realistis, yang dapat menyebabkan kekecewaan di kalangan investor dan pemimpin bisnis.Q
Apa yang menjadi ukuran yang lebih baik untuk menilai kecerdasan AI?A
Ukuran yang lebih baik untuk menilai kecerdasan AI adalah otonomi, yaitu seberapa banyak pekerjaan yang dapat diotomatisasi tanpa campur tangan manusia.Q
Apa perbedaan antara GenAI dan predictive AI?A
GenAI biasanya memerlukan pengawasan manusia lebih banyak karena sifat tugas yang diambilnya, sementara predictive AI dapat beroperasi secara lebih mandiri.Q
Mengapa ada paradoks terkait dengan GenAI dan otonomi?A
Paradoks tersebut menunjukkan bahwa meskipun GenAI tampak lebih canggih dan manusiawi, ia sering kali memerlukan lebih banyak pengawasan daripada sistem predictive AI.




