Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

Trump Longgarkan Larangan Ekspor Chip Canggih ke China, Buka Peluang Baru

Teknologi
Keamanan Siber
cyber-security (2mo ago) cyber-security (2mo ago)
02 Jan 2026
109 dibaca
2 menit
Trump Longgarkan Larangan Ekspor Chip Canggih ke China, Buka Peluang Baru

Rangkuman 15 Detik

Kebijakan ekspor AS terhadap China dapat berubah seiring waktu.
Perusahaan seperti TSMC, Samsung, dan SK Hynix mendapatkan lisensi untuk mengimpor peralatan chip.
Larangan sebelumnya terhadap ekspor chip canggih berdampak pada hubungan perdagangan antara AS dan China.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sempat sangat ketat dalam melarang ekspor chip kecerdasan buatan (AI) dan teknologi pembuatan chip canggih ke China. Kebijakan tersebut bertujuan untuk membatasi kemajuan teknologi China dan menjaga keunggulan industri semikonduktor Amerika. Namun di penghujung tahun 2025, Trump mulai berubah sikap dan membuka akses ekspor chip dan peralatan pembuat chip ke China. Nvidia, misalnya, mendapat izin mengekspor chip H200 yang merupakan salah satu prosesor tercanggih ke China. Tak hanya Nvidia, Taiwan Semiconductor Manufacturing (TSMC) juga mendapat lisensi tahunan dari pemerintah AS untuk mengimpor peralatan manufaktur chip ke pabriknya di Nanjing, China, tanpa perlu mendapatkan lisensi vendor individual tiap kali mengimpor. Lisensi tersebut berlaku untuk tahun 2026, sementara sebelumnya Samsung Electronics dan SK Hynix juga telah mendapat pengecualian pembatasan ekspor yang berakhir pada 31 Desember 2025. Pabrik TSMC di Nanjing sendiri memproduksi chip dengan teknologi 16 nanometer dan memberikan kontribusi 2,4% terhadap pendapatan perusahaan. Meski pelonggaran ini terjadi, TSMC masih dilarang mengekspor chip jenis 7 nanometer atau lebih canggih ke China. Hal ini terkait dengan sanksi dagang yang diberlakukan AS setelah ditemukan bahwa chip TSMC digunakan dalam produk AI Huawei, yang melanggar ketentuan ekspor.

Analisis Ahli

James Lewis (pakar teknologi dan kebijakan AS)
Pelambatan kebijakan ekspor ini merupakan upaya strategis untuk menyeimbangkan tekanan geopolitik dan kebutuhan industri teknologi AS yang bergantung pada pasar China. Namun, ini bukan berarti AS melemahkan pengawasan atas teknologi sensitif, melainkan menyesuaikan dengan dinamika bisnis global.