AS Izinkan Penjualan Chip AI ke China, Mendorong Persaingan Teknologi Global
Teknologi
Kecerdasan Buatan
31 Des 2025
30 dibaca
2 menit

Rangkuman 15 Detik
AS dan China terlibat dalam konflik yang berfokus pada akses dan pengembangan teknologi chip AI.
ByteDance menunjukkan ambisi besar dalam pengembangan AI dengan rencana investasi yang besar untuk chip Nvidia.
Perubahan kebijakan Trump menunjukkan kesadaran akan dampak negatif dari pembatasan ekspor chip terhadap posisi AS di pasar global.
Konflik antara Amerika Serikat dan China selama ini banyak berpusat pada masalah chip AI canggih. AS menutup akses chip dan alat pembuat chip ke China karena khawatir China menggunakan teknologi tersebut untuk memperkuat militernya. Kebijakan ini diberlakukan sejak 2023 dan hingga beberapa tahun berikutnya, termasuk oleh negara-negara sekutu AS.
Namun menjelang akhir 2025, kebijakan ini berubah saat Donald Trump mengizinkan penjualan chip H200 buatan Nvidia ke China dengan syarat ada pungutan sebesar 25% yang diberikan ke pemerintah AS. Chip H200 adalah chip tercanggih kedua dari Nvidia, dan keputusan ini mengindikasikan adanya perubahan strategi karena pembatasan sebelumnya justru dianggap memperkuat China.
Merespon blokade chip yang dilakukan AS, China di bawah Presiden Xi Jinping berupaya keras untuk mandiri dalam pengembangan teknologi chip, termasuk chip AI. Ini membuat perusahaan seperti Nvidia merasa khawatir karena China terus mendekati ketertinggalan teknologi dengan AS, bahkan dengan harga chip yang lebih murah.
ByteDance, perusahaan teknologi asal China, mengungkapkan rencana mengalokasikan dana hingga 100 miliar yuan atau sekitar Rp238 triliun pada 2026 untuk membeli chip AI dari Nvidia. Ini menunjukkan ambisi besar China dalam memperkuat teknologi AI mereka dan menggunakan chip canggih dari AS secara legal. ByteDance juga sudah memiliki unit desain chip sendiri yang kinerjanya mulai menyamai chip domestik Nvidia.
Rencana ini bisa jadi tanda bahwa persaingan teknologi chip AI akan semakin sengit antara AS dan China. Meski AS membuka akses penjualan chip AI, China tetap mengembangkan chip dalam negeri untuk mengurangi ketergantungan dengan AS dan memperkuat posisi geopolitiknya di dunia teknologi.
Analisis Ahli
Daron Acemoglu (ekonom MIT)
Pembatasan perdagangan teknologi antara negara besar sering membuat kedua pihak berkembang dalam jalur yang berbeda, tetapi tidak menghentikan persaingan inovasi yang semakin ketat.Ankit Panda (pakar geopolitik teknologi)
Kebijakan Biden dan Trump terkait chip adalah tanda jelas bagaimana teknologi menjadi arena perang dingin baru dan memerlukan kebijakan yang sangat cermat.

