Google dan Energy Dome Kembangkan Baterai CO2 untuk Penyimpanan Energi Terbarukan
Courtesy of CNBCIndonesia

Google dan Energy Dome Kembangkan Baterai CO2 untuk Penyimpanan Energi Terbarukan

Mengembangkan teknologi baterai CO2 yang efisien dan ramah lingkungan untuk menyimpan energi terbarukan secara lebih efektif, sehingga dapat memenuhi kebutuhan listrik yang stabil bagi pusat data dan mengurangi ketergantungan pada baterai konvensional dengan bahan mineral langka.

29 Des 2025, 19.40 WIB
53 dibaca
Share
Ikhtisar 15 Detik
  • Google berkolaborasi dengan Energy Dome untuk inovasi penyimpanan energi.
  • Teknologi ini menggunakan karbon dioksida sebagai media penyimpanan energi.
  • Fasilitas ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi pembangkit energi terbarukan.
Sardinia, Italia - Google bekerja sama dengan perusahaan Energy Dome dari Italia untuk mengembangkan teknologi baterai baru yang menggunakan karbon dioksida (CO2) sebagai media penyimpanan energi. Teknologi ini disebut sebagai baterai "udara" karena mampu menyimpan energi dalam bentuk CO2 terkompresi. Tujuannya adalah untuk mengatasi masalah fluktuasi energi dari sumber terbarukan seperti tenaga surya dan angin.
Teknologi baterai ini menggunakan proses pengompresan dan pelepasan CO2 untuk menyimpan dan menggerakkan listrik. Saat energi berlebih dari pembangkit listrik hijau tersedia, CO2 dikompresi dan didinginkan sehingga menjadi cair dalam sebuah kubah raksasa. Ketika listrik dibutuhkan, CO2 diuapkan dan digunakan untuk memutar turbin yang menghasilkan listrik.
Fasilitas prototipe sedang dibangun di Sardinia, Italia, dengan kapasitas penyimpanan sebesar 200 MWh, cukup untuk mensuplai listrik ke sekitar 6.000 rumah. Jika berhasil, teknologi ini akan diterapkan di berbagai data center Google di Eropa, Amerika Serikat, dan Asia Pasifik karena cocok untuk semua jenis energi terbarukan dan menyediakan solusi penyimpanan listrik yang stabil.
Salah satu keunggulan teknologi ini adalah tidak memerlukan bahan tambahan langka seperti mineral tanah jarang yang biasa digunakan untuk baterai lithium-ion, sehingga bisa mengurangi ketergantungan pada sumber daya yang terbatas. Namun, risiko kebocoran CO2 tetap menjadi perhatian karena dapat meningkatkan emisi gas rumah kaca jika tidak dikendalikan dengan baik.
Teknologi ini diharapkan menjadi bagian penting dalam mendukung infrastruktur energi hijau di masa depan dengan membantu menyeimbangkan pasokan listrik dari sumber energi terbarukan yang sering tidak stabil, terutama untuk penggunaan di pusat data dan fasilitas industri lainnya yang memerlukan ketersediaan listrik yang tinggi dan berkelanjutan.
Referensi:
[1] https://www.cnbcindonesia.com/tech/20251229150236-37-698025/baterai-baru-google-tak-butuh-lithium-dan-nikel-cuma-pakai-udara

Analisis Ahli

Elon Musk
"Penyimpanan energi dengan cara yang scalable dan efisien sangat penting, dan meskipun teknologi baru seperti baterai CO2 menarik, kami harus pastikan keamanan dan dampak lingkungan secara menyeluruh."
Christina Lampe-Onnerud
"Inovasi dalam baterai yang tidak mengandalkan sumber bahan baku terbatas merupakan langkah besar, dan potensi aplikasinya di skala besar sangat menguntungkan untuk keandalan sistem energi global."

Analisis Kami

"Teknologi baterai CO2 ini menawarkan pendekatan inovatif yang sangat diperlukan untuk mengatasi masalah penyimpanan energi terbarukan yang fluktuatif. Namun, perhatian serius harus diberikan pada risiko emisi kebocoran CO2 karena hal ini dapat mengurangi manfaat lingkungan dari teknologi ini secara keseluruhan."

Prediksi Kami

Jika pengembangan teknologi baterai CO2 ini berhasil, penggunaan baterai berbasis CO2 dapat menjadi alternatif utama untuk penyimpanan energi terbarukan di berbagai pusat data dan instalasi energi hijau di seluruh dunia, sekaligus mengurangi ketergantungan pada baterai lithium yang mahal dan langka.

Pertanyaan Terkait

Q
Apa yang sedang dikembangkan oleh Google bekerja sama dengan Energy Dome?
A
Google sedang mengembangkan baterai udara yang menyimpan energi dalam bentuk karbon dioksida.
Q
Bagaimana cara kerja teknologi penyimpanan energi dari Energy Dome?
A
Teknologi Energy Dome menggunakan gas karbon dioksida yang terkompresi untuk menyimpan energi dan kemudian digunakan untuk memutar turbin.
Q
Apa manfaat dari fasilitas penyimpanan energi ini?
A
Fasilitas ini dapat menutupi celah dalam pembangkitan energi terbarukan yang tidak stabil dan menyimpan energi surplus.
Q
Di mana prototype dari teknologi ini sedang dibangun?
A
Prototype sedang dibangun di lahan seluas 5 hektare di Sardinia, Italia.
Q
Apa kekurangan dari baterai CO2 dibandingkan dengan baterai lithium?
A
Baterai CO2 memiliki emisi yang lebih besar dibandingkan baterai lithium dan berpotensi mencemari atmosfer jika ada kebocoran.