TLDR
The New York Times dan organisasi media lainnya aktif mengambil tindakan hukum untuk melindungi konten mereka dari penggunaan tanpa lisensi. Perplexity berusaha bernegosiasi dengan penerbit melalui program kompensasi untuk menghindari masalah hukum. Kasus hukum ini menunjukkan tantangan yang dihadapi oleh penerbit dalam era teknologi AI dan kebutuhan untuk melindungi hak cipta mereka. The New York Times mengajukan gugatan terhadap startup AI bernama Perplexity karena dianggap menggunakan artikel dan konten mereka tanpa izin serta tidak memberikan kompensasi yang layak. Gugatan ini merupakan yang kedua kalinya The Times menuntut perusahaan AI terkait isu serupa, setelah sebelumnya juga berseteru dengan OpenAI dan Microsoft.Perplexity menggunakan teknologi retrieval-augmented generation (RAG) yang mengizinkan model AI-nya mengumpulkan informasi dari berbagai sumber daring untuk menjawab pertanyaan pengguna. Namun, cara ini kerapkali mereproduksi konten asli layaknya ringkasan yang sangat mirip, bahkan kata demi kata, sehingga dianggap mencuri konten berbayar dari The Times.Meski Perplexity sudah mencoba membuat program pembagian pendapatan dengan beberapa penerbit besar, termasuk alokasi 80% dari biaya berlangganan Comet Plus untuk penerbit, The Times tetap tidak setuju dan menegaskan pentingnya kompensasi yang sesuai dan penghargaan terhadap karya jurnalistik mereka.The gugatan juga menyoroti risiko lain, seperti munculnya informasi palsu atau 'hallucination' yang dikaitkan dengan merek The Times, yang berpotensi merugikan reputasi dan kepercayaan publik terhadap media tersebut.Situasi ini menunjukkan bagaimana berbagai penerbit besar di dunia, termasuk The Times, sedang berusaha keras mengatur hubungan bisnis dengan para perusahaan AI agar bisa bertahan dan mendapatkan keadilan terkait penggunaan konten original di tengah perkembangan teknologi yang cepat.