Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

Lumut Physcomitrium Patens Bertahan Hidup 9 Bulan di Luar Angkasa

Sains
Astronomi dan Penjelajahan Luar Angkasa
CNBCIndonesia CNBCIndonesia
24 Nov 2025
55 dibaca
2 menit
Lumut Physcomitrium Patens Bertahan Hidup 9 Bulan di Luar Angkasa

Rangkuman 15 Detik

Lumut memiliki kemampuan luar biasa untuk bertahan hidup di luar angkasa.
Eksperimen menunjukkan bahwa spora lumut dapat bertahan hingga 5.600 hari di luar angkasa.
Hasil penelitian ini dapat menjadi dasar untuk eksplorasi ekosistem di luar Bumi.
Penelitian terbaru membuktikan bahwa spora lumut Physcomitrium patens mampu bertahan hidup di luar stasiun luar angkasa ISS selama 9 bulan. Sekitar 80 persen spora yang dibawa kembali ke Bumi masih hidup dan dapat tumbuh kembali seperti normal. Penelitian ini dilakukan untuk memahami bagaimana tanaman bisa bertahan di kondisi luar angkasa yang sangat ekstrem. Lumut dipilih karena tanaman ini dikenal sangat tahan terhadap kondisi lingkungan yang keras, dari gunung Himalaya hingga gurun pasir. Ekspresi kekuatan spora lumut dalam menghadapi suhu dingin, panas, radiasi, dan tanpa gravitasi ini menjadi fokus utama penelitian dengan menggunakan sampel yang diletakkan di modul Kibo di luar ISS. Paparan radiasi ultraviolet menjadi tantangan terbesar bagi spora lumut karena dapat menurunkan pigmen fotosintesis secara drastis. Namun, meski begitu, spora ini menunjukkan ketahanan tinggi dan bisa bertahan hingga berhari-hari lama di luar angkasa. Ini menandai terobosan baru yang berbeda dari penelitian sebelumnya yang lebih fokus pada bakteri atau organisme besar lainnya. Penulis utama penelitian, Tomomichi Fujita dari Hokkaido University, memperkirakan bahwa spora lumut dapat bertahan hingga 15 tahun di luar angkasa. Hal ini menimbulkan harapan besar bahwa spora lumut dan organisme tahan ekstrem lain bisa menjadi bahan penting dalam membangun ekosistem di luar Bumi untuk misi eksplorasi jangka panjang. Dengan hasil ini, di masa depan diharapkan penelitian akan diperluas ke spesies lain agar dapat lebih memahami daya tahan sel di kondisi stres ekstrem. Temuan ini menjadi langkah awal penting untuk menciptakan lingkungan hidup yang stabil dan mandiri di luar planet kita.

Analisis Ahli

Tomomichi Fujita
Hasil uji coba ini bisa menjadi landasan strategis untuk mengembangkan ekosistem luar angkasa dan memperluas riset ke spesies lain guna memahami daya tahan sel dalam kondisi stres ekstrem.