TLDR
COP30 menunjukkan pentingnya kerjasama multilateral dalam menghadapi perubahan iklim. Meskipun ada kemajuan, masih ada kelemahan signifikan dalam komitmen terhadap transisi energi. Keterlibatan negara-negara seperti Turkey dan Australia diharapkan dapat meningkatkan fokus pada kerentanan negara-negara kecil kepulauan. COP30 di Belém berlangsung penuh dengan tekanan tinggi untuk menghasilkan kemajuan nyata dalam melawan perubahan iklim. Konferensi ini berlangsung di tengah cuaca ekstrem yang menggambarkan langsung dampak pemanasan global, mengingatkan semua delegasi akan pentingnya kolaborasi global yang kuat.Lebih dari 80 negara mendukung sebuah peta jalan untuk mengurangi penggunaan bahan bakar fosil, dan USD5,5 miliar dijanjikan untuk fasilitas perlindungan dan restorasi hutan tropis bernama Tropical Forest Forever Facility. Komitmen ini menunjukkan dorongan kuat untuk menjaga keberlanjutan hutan yang vital bagi iklim dunia.Selain itu, ada kesepakatan untuk meningkatkan pendanaan iklim hingga 1,3 triliun USD dengan program kerja dua tahun yang dipimpin bersama oleh negara maju dan berkembang. Namun, ketegangan dan kompromi menyebabkan peta jalan bahan bakar fosil tidak masuk ke dalam teks akhir, menunjukkan adanya keterbatasan dalam kesepakatan.Presidensi Brasil mengakui kelemahan ini dengan merilis peta jalan sendiri terkait deforestasi dan transisi bahan bakar fosil, menandakan langkah maju secara perlahan yang tetap mendorong ambisi bagi mereka yang siap bertindak cepat. Kesepakatan COP31 antara Turki dan Australia juga menambah fokus pada negara pulau kecil yang sangat rentan terhadap perubahan iklim.Meskipun ada kemajuan, COP30 menyisakan pertanyaan besar tentang apakah langkah-langkah tersebut cukup cepat dan kuat untuk mencegah bencana iklim yang diperlihatkan langsung di Belém, dan apakah dunia bisa bersatu lebih kuat dalam menghadapi krisis iklim yang semakin mendesak.