Lula Serukan Tindakan Nyata di COP30 Saat AS Absen, Cina Ambil Peran Penting
Sains
Iklim dan Lingkungan
07 Nov 2025
41 dibaca
2 menit

Rangkuman 15 Detik
KTT COP30 adalah panggilan untuk tindakan nyata terhadap perubahan iklim.
Keberadaan Tiongkok di KTT menunjukkan pergeseran kekuasaan dalam negosiasi iklim global.
Amazon menjadi simbol penting dalam diskusi mengenai keberlanjutan dan dampak perubahan iklim.
Konferensi COP30 yang bertempat di Belem, Brasil mengumpulkan para pemimpin dunia untuk membahas aksi perubahan iklim, meskipun Amerika Serikat tidak hadir sebagai akibat dari kebijakan pembatalan Perjanjian Paris. Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva menyerukan agar janji-janji iklim yang telah dibuat oleh negara-negara diubah menjadi tindakan konkret untuk mengatasi dampak serius seperti kekeringan, banjir, dan deforestasi.
Dalam pidatonya, Lula menegaskan pentingnya komitmen global yang adil dan tegas, sembari menyoroti kondisi Amazon yang merupakan rumah bagi jutaan orang dan memiliki keanekaragaman hayati yang tak tertandingi. Menurutnya, kawasan ini mencerminkan konflik antara kebutuhan untuk kemakmuran dan urgensi pelestarian lingkungan yang harus diselesaikan bersama.
Sementara itu, ketidakhadiran Amerika Serikat dan ketiadaan diplomat resmi di konferensi ini menimbulkan kesenjangan dalam upaya diplomasi iklim global. Di sisi lain, Cina mengirim delegasi besar berjumlah 300 anggota yang berasal dari berbagai kementerian, menunjukkan dorongan Negeri Tirai Bambu untuk mengisi kekosongan kepemimpinan AS dalam negosiasi perubahan iklim.
Lula juga menegaskan bahwa konferensi ini adalah momen kebenaran bagi negara-negara dunia, untuk membuktikan apakah mereka memiliki kehendak dan keberanian untuk mengubah arah kebijakan sebelum dampak perubahan iklim menjadi lebih buruk dan tidak bisa diperbaiki. Dia mengajak seluruh dunia agar bertanggung jawab dengan memperkuat kerjasama global dalam pembiayaan iklim, pembangunan kapasitas, dan transfer teknologi.
Kesimpulannya, COP30 menjadi titik penting untuk menguji keseriusan negara-negara dalam memenuhi komitmen iklim, dengan harapan bahwa tekanan dari negara berkembang dan peran aktif Cina dapat mendorong perubahan nyata, sekaligus mengingatkan bahwa kerusakan lingkungan seperti yang terjadi di Amazon harus menjadi perhatian utama bagi kemanusiaan di masa depan.
Analisis Ahli
Christiana Figueres (mantan sekretaris eksekutif UNFCCC)
COP30 adalah momentum penting yang harus dimanfaatkan untuk memperkuat komitmen global, terutama dengan negara besar seperti Cina yang semakin mengambil peran utama dalam memimpin diplomasi iklim.Michael Mann (ahli klimatologi)
Ketidakhadiran AS berpotensi melemahkan efektivitas perjanjian, tapi dorongan dari negara berkembang dan pengaruh Cina bisa menjadi katalis penting untuk kemajuan lebih nyata.
