AI summary
China berkomitmen untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan meningkatkan kapasitas energi terbarukan. KTT pemimpin iklim menunjukkan perbedaan pandangan yang tajam antara negara-negara terkait perubahan iklim. COP30 di Brasil akan menjadi momen penting untuk menilai kemajuan global dalam upaya penanganan perubahan iklim. China, negara penghasil emisi karbon terbesar di dunia, telah mengumumkan komitmen untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 7-10 persen di bawah puncak emisi pada tahun 2035. Presiden Xi Jinping menyampaikan target ini melalui pidato video pada KTT pemimpin iklim PBB di New York. Upaya ini juga disertai janji meningkatkan kapasitas energi angin dan surya lebih dari enam kali lipat sejak 2020 dan menaikkan proporsi energi non-fosil menjadi lebih dari 30 persen dari total konsumsi energi domestik.Presiden Xi juga mendesak negara maju untuk memimpin aksi iklim yang lebih kuat dan mengkritik negara-negara yang menolak transisi energi hijau. Pernyataan ini muncul setelah Presiden AS Donald Trump yang menolak perubahan iklim dan mengumumkan penarikan kedua kali dari Perjanjian Paris. Di sisi lain, Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva mengecam sikap seperti itu dengan menegaskan bahwa tak ada negara yang kebal dari dampak perubahan iklim.Beberapa negara besar lain juga menyampaikan target pengurangan emisi mereka menjelang COP30 di Brasil, antara lain Brasil dengan target pengurangan emisi 59-67 persen, Uni Eropa dengan target 66-72 persen, dan Australia dengan target 62-70 persen. Kelompok kepulauan kecil dan negara-negara berkembang seperti Kenya dan Panama juga menyatakan komitmen mereka terhadap perlindungan lingkungan dan restorasi ekosistem.Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menegaskan bahwa meskipun target pengurangan emisi global telah menurun dibanding sebelumnya, dunia masih jauh dari mencapai tujuan membatasi kenaikan suhu rata-rata global maksimum 1,5 derajat Celsius. Para ahli iklim dan pengamat juga menilai bahwa rencana saat ini masih belum cukup ambisius dan perlunya langkah yang lebih besar dan cepat terutama dari negara-negara besar.COP30 yang akan diselenggarakan di Belem, Brasil, menjadi momen penting untuk melihat sejauh mana negara-negara berkomitmen dan bersedia untuk bertindak demi mengatasi krisis iklim global. Tekanan akan terus bertambah agar target tersebut bukan hanya sekadar janji, tetapi diikuti dengan tindakan nyata yang dapat menyelamatkan planet dan kehidupan.
Meskipun komitmen China terkesan berhati-hati, ini merupakan langkah penting karena China adalah emitor karbon terbesar. Namun, tanpa tindakan lebih cepat dan konkrit dari negara-negara utama lain, target iklim global tetap sulit dicapai.