Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

Dampak Media Sosial Terhadap Perasaan Selalu Diawasi pada Remaja dan Kecemasan Sosial

Sains
Neurosains and Psikologi
Forbes Forbes
10 Nov 2025
145 dibaca
2 menit
Dampak Media Sosial Terhadap Perasaan Selalu Diawasi pada Remaja dan Kecemasan Sosial

Rangkuman 15 Detik

Media sosial dapat memperkuat perasaan 'audience imajiner' pada remaja, yang berkontribusi pada kecemasan sosial.
Pentingnya menilai penggunaan media sosial dalam praktik terapi untuk membantu remaja mengatasi masalah kesehatan mental.
Orang tua harus memperhatikan tidak hanya konten yang diakses anak-anak di media sosial, tetapi juga dampaknya terhadap kesehatan emosional mereka.
Media sosial kini menjadi bagian besar dalam kehidupan kaum muda, yang membawa dampak pada bagaimana mereka melihat diri sendiri dan berinteraksi dengan orang lain. Studi terbaru menunjukkan bahwa penggunaan media sosial berkaitan langsung dengan meningkatnya perasaan bahwa mereka selalu diawasi dan dinilai oleh orang lain, dikenal dengan istilah 'imaginary audience'. Perasaan ini membuat banyak remaja merasa cemas dan takut untuk tampil di depan umum. Istilah imaginary audience pertama kali diperkenalkan oleh psikolog David Elkind pada tahun 1960-an, yang menjelaskan egosentrisme remaja di mana mereka merasa bahwa semua orang selalu memperhatikan dan mengkritik mereka. Dalam perkembangan tersebut, media sosial menyebabkan fenomena ini menjadi semakin nyata karena remaja bisa dengan mudah membandingkan diri mereka dengan orang lain dan merasa harus tampil sempurna setiap saat. Selain itu, media sosial mendorong perilaku performatif seperti mencari likes, views, dan membandingkan profil sosial yang dapat memperparah kecemasan sosial. Pengguna muda tidak hanya merasa terus-menerus dinilai tapi juga berperan sebagai audiens bagi orang lain, sehingga menciptakan siklus berulang dari ketakutan dan tekanan sosial. Fenomena imaginary audience dan egosentrisme ini dapat berpengaruh negatif terhadap kesehatan mental, termasuk kecemasan dan depresi. Namun, banyak terapis tidak secara rutin menilai dampak media sosial pada klien muda mereka, sehingga faktor penting ini sering terabaikan dalam penanganan masalah psikologis. Agar kaum muda dapat memiliki hubungan yang sehat dengan media sosial, diperlukan edukasi dan metode terapi yang fokus pada mengurangi kebutuhan untuk selalu tampil sempurna dan meyakinkan mereka bahwa tidak semua orang selalu mengawasi mereka. Orang tua juga perlu memahami emosi yang dialami anak-anak mereka akibat tekanan media sosial agar dapat membantu mereka melewati masa perkembangan dengan lebih sehat.

Analisis Ahli

David Elkind
Konsep imaginary audience tetap relevan dan diperkuat oleh perkembangan teknologi media sosial yang memungkinkan pengawasan sosial secara konstan.
American Psychological Association
Media sosial memperkuat perilaku performatif yang berdampak negatif pada kesejahteraan psikologis pengguna muda.