Perbedaan Strategi Asia Pasifik dalam Mata Uang Digital: CBDC vs Stablecoin
Finansial
Perbankan dan Layanan Keuangan
30 Okt 2025
296 dibaca
2 menit
Rangkuman 15 Detik
Jalur pengembangan mata uang digital di APAC sangat beragam, dengan beberapa negara fokus pada CBDC dan lainnya pada stablecoin swasta.
Regulasi yang jelas di Australia dan Jepang menunjukkan kemajuan dalam pengawasan stablecoin dan perlindungan konsumen.
Peringatan tentang risiko depegging di Korea Selatan menunjukkan tantangan yang dihadapi stablecoin swasta dalam mempertahankan stabilitas.
Berbagai negara di kawasan Asia dan Pasifik mengembangkan mata uang digital dengan pendekatan yang berbeda. Hong Kong melakukan pilot e-HKD untuk penggunaan transaksi keuangan besar atau wholesale sebelum memperluas ke pengguna ritel di masa depan. Sementara itu, Jepang meluncurkan stablecoin JPYC sebagai stablecoin yen pertama yang diatur resmi di bawah aturan baru.
JPYC menunjukkan pertumbuhan cepat dengan lebih dari 50 juta yen beredar hanya dalam 48 jam. Stablecoin ini tersebar di tiga jaringan blockchain, yaitu Polygon, Avalanche, dan Ethereum. Meskipun pasar berkembang, ada peringatan tentang risiko yang terkait, terutama dalam penyediaan likuiditas di bursa desentralisasi.
Di sisi lain, Korea Selatan berhati-hati dalam penerimaan stablecoin dengan memperingatkan risiko hilangnya nilai tetap atau depegging. Bank sentral Korea mewajibkan peran bank tradisional dalam penerbitan stablecoin agar dapat memberikan kepercayaan dan jaminan yang lebih kuat bagi pengguna.
Australia mengambil langkah konkret dengan memperjelas regulasi untuk stablecoin dan produk aset digital lainnya. Perusahaan yang menawarkan produk ini harus memiliki lisensi layanan keuangan resmi. Regulasi ini memberikan perlindungan hukum bagi konsumen dan meningkatkan kepastian hukum bagi pengusaha stablecoin.
Singapura tetap menjadi model hybrid dengan riset CBDC dan ekosistem stablecoin yang maju. Stablecoin XSGD mendominasi pasar non-dolar AS di Asia Tenggara dengan aktivitas transaksi yang besar. Perbedaan di kawasan tersebut menunjukkan bagaimana berbagai negara mengutamakan kedaulatan moneter, inovasi keuangan, dan infrastruktur pembayaran yang matang.
Analisis Ahli
Noritaka Okabe
Operational risks in decentralized exchange liquidity provision should be carefully managed to ensure sustainable adoption of stablecoins.Alan Kirkland
Licensing stablecoin operators is essential for consumer protection and to prevent malpractices, encouraging a safer digital asset environment.