Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

Operasi Bersejarah: Transplantasi Hati Babi Genetik Sukses Namun Pasien Meninggal

Sains
Kesehatan dan Obat-obatan
CNBCIndonesia CNBCIndonesia
24 Okt 2025
112 dibaca
2 menit
Operasi Bersejarah: Transplantasi Hati Babi Genetik Sukses Namun Pasien Meninggal

Rangkuman 15 Detik

Transplantasi hati babi rekayasa genetik adalah langkah maju dalam bidang medis.
Komplikasi yang dialami pasien menunjukkan risiko tinggi dalam prosedur xenotransplantasi.
Penelitian ini membuka peluang untuk pengembangan terapi baru meskipun masih memerlukan banyak penyempurnaan.
Seorang pria berusia 71 tahun di China menjalani transplantasi hati dari babi hasil rekayasa genetik, sebuah prosedur yang belum pernah dilakukan sebelumnya dalam kondisi pasien hidup. Pasien mengalami penyakit hati parah yang tidak bisa diatasi dengan metode konvensional dan tidak memiliki donor manusia yang cocok. Tim medis di Rumah Sakit Affiliated Pertama Universitas Kedokteran Anhui menggunakan organ babi dari jenis Diannan miniature pig yang telah dimodifikasi secara genetis sebanyak 10 kali agar organ tersebut bisa diterima oleh tubuh manusia tanpa memicu reaksi imun berbahaya. Dalam sebulan pertama setelah operasi, transplantasi berjalan dengan baik tanpa tanda-tanda penolakan organ. Namun, pada hari ke-38 muncul komplikasi langka yang menyebabkan organ harus diangkat kembali untuk mencegah kerusakan lebih lanjut. Meski mendapat perawatan intensif, pasien kemudian mengalami pendarahan pada saluran pencernaan dan meninggal dunia 171 hari setelah operasi. Para dokter menilai hasil operasi ini sebagai bukti bahwa transplantasi hati babi dapat dilakukan, tapi masih menghadapi tantangan besar, terutama soal gangguan pembekuan darah. Penelitian ini diterbitkan di Journal of Hepatology dan diakui sebagai tonggak sejarah dalam bidang xenotransplantasi. Para ahli optimis metode ini bisa menjadi solusi di masa depan, namun masih banyak hal teknis dan medis yang harus diperbaiki sebelum metode ini bisa digunakan secara luas.

Analisis Ahli

Dr. Beatriz Domínguez-Gil
Ini menunjukkan xenotransplantasi sebagai terapi jembatan atau bahkan terapi permanen di masa depan, tapi masih banyak hambatan medis yang perlu diatasi sebelum bisa diterapkan secara luas.