Transplantasi Hati Babi Pertama di Dunia: Bertahan 171 Hari dan Tantangannya
Sains
Kesehatan dan Obat-obatan
31 Okt 2025
124 dibaca
2 menit

Rangkuman 15 Detik
Transplantasi hati babi menunjukkan potensi sebagai alternatif untuk pasien yang tidak memiliki donor organ manusia.
Meskipun berhasil bertahan hidup selama 171 hari, komplikasi serius tetap menjadi tantangan dalam xenotransplantasi.
Penelitian ini menyoroti perlunya penyempurnaan teknologi dan pemahaman lebih dalam tentang respon imun manusia terhadap organ hewan.
Seorang pria berusia 71 tahun di China menjadi manusia pertama yang menerima transplantasi hati dari babi hasil rekayasa genetik. Operasi ini dilakukan karena pasien tidak bisa menjalani transplantasi hati dari manusia akibat kondisi medis dan keterbatasan donor. Prosedur ini dilakukan di Rumah Sakit Affiliated Pertama Universitas Kedokteran Anhui oleh Dr. Beicheng Sun.
Hati babi yang digunakan telah mengalami 10 modifikasi genetik untuk membuatnya kompatibel dengan tubuh manusia dan menghindari reaksi penolakan organ. Setelah transplantasi, hati tersebut berfungsi dengan baik selama satu bulan pertama tanpa tanda-tanda komplikasi yang berarti, memberikan harapan baru dalam dunia kedokteran organ.
Sayangnya, komplikasi langka bernama xenotransplantation-associated thrombotic microangiopathy (xTMA) muncul pada hari ke-38, yang memengaruhi fungsi beberapa organ tubuh. Organ itu harus diangkat kembali dan pasien harus menerima perawatan intensif untuk mengatasi kondisi ini.
Meski telah mendapatkan perawatan, pasien akhirnya meninggal dunia pada hari ke-171 pascaoperasi akibat pendarahan pada saluran pencernaan. Kasus ini menjadi bukti bahwa meskipun perkembangan xenotransplantasi menunjukkan potensi besar, teknologi tersebut masih jauh dari sempurna dan memiliki risiko serius.
Menurut para ahli, khususnya Direktur Organisasi Transplantasi Nasional Spanyol Dr. Beatriz Domínguez-Gil, penelitian ini adalah tonggak penting yang membuktikan bahwa xenotransplantasi bisa menjadi terapi jembatan di masa depan, namun masih banyak tantangan medis yang harus diselesaikan agar prosedur ini dapat diterapkan secara luas dan aman.
Analisis Ahli
Dr. Beatriz Domínguez-Gil
Penelitian ini menunjukkan bahwa xenotransplantasi bisa menjadi terapi jembatan atau terapi permanen di masa depan, namun masih banyak hambatan medis yang harus diatasi sebelum teknik ini dapat diterapkan secara luas. Ini adalah langkah baru dalam kemajuan terapi xenotransplantasi yang menyoroti tantangan besar di bidang ini.

