China Hentikan Stablecoin Hong Kong, Tegaskan Kontrol Mata Uang Digital Negara
Finansial
Mata Uang Kripto
20 Okt 2025
247 dibaca
2 menit
Rangkuman 15 Detik
Pemerintah Tiongkok menegaskan kontrol moneter dengan menghentikan proyek stablecoin swasta.
Strategi Tiongkok mencakup penguatan e-CNY dan kontrol atas mineral langka sebagai cara untuk meredam dominasi dolar AS.
Inovasi dalam sektor Web3 harus sejalan dengan tujuan strategis negara untuk mendapatkan dukungan dari pemerintah.
Beberapa perusahaan teknologi terbesar China, termasuk Ant Group dan JD.COM, telah menghentikan proyek stablecoin mereka di Hong Kong setelah mendapat tekanan dari pemerintah pusat di Beijing. Hal ini terjadi karena kekhawatiran bahwa mata uang digital privat dapat mengancam kedaulatan moneter China dan digital yuan (e-CNY) yang dikembangkan pemerintah.
Hong Kong sebelumnya berusaha menjadi pusat Web3 di Asia dengan meluncurkan program pilot untuk penerbitan stablecoin dan tokenisasi aset. Namun, intervensi cepat dari Beijing menunjukkan bahwa ruang kebijakan Hong Kong terbatas dan masih harus tunduk pada regulasi ketat pemerintah China.
Selain stabilcoin, China juga memperketat kontrol terhadap tokenisasi aset riil (RWA) melalui arahan dari China Securities Regulatory Commission (CSRC). Ini menandakan bahwa regulasi tidak hanya fokus pada mata uang digital tapi juga meluas ke aset digital lain di Hong Kong.
Secara global, China menjalankan strategi ganda dengan menggunakan kendali hampir monopoli atas mineral tanah jarang, yang sangat penting bagi teknologi tinggi dan sistem pertahanan AS. Ini menjadi alat geopolitik untuk mengurangi dominasi dolar AS dan memperkuat posisi yuan dalam perdagangan internasional.
Ke depan, perusahaan Web3 yang ingin mengakses pasar konsumen di daratan China harus sepenuhnya mematuhi regulasi ketat dan mendukung infrastruktur digital negara, terutama dalam penggunaan dan pengembangan e-CNY. Ini mengubah lanskap inovasi teknologi menjadi lebih terpusat dan terkendali oleh negara.
Analisis Ahli
Luke Gromen
Pengendalian China atas mineral tanah jarang dirancang untuk melemahkan fondasi teknologi militer AS dan melanggengkan nilai dolar melalui tekanan geopolitik.