Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

Pencurian Kripto Korea Utara Capai Rekor dan Alih Metode ke Serangan Manusia

Finansial
Mata Uang Kripto
cryptocurrency (5mo ago) cryptocurrency (5mo ago)
07 Okt 2025
282 dibaca
2 menit
Pencurian Kripto Korea Utara Capai Rekor dan Alih Metode ke Serangan Manusia

Rangkuman 15 Detik

Korea Utara telah mencatatkan rekor pencurian kripto lebih dari $2 miliar pada tahun ini.
Serangan sosial menjadi metode utama bagi hacker Korea Utara dalam melakukan pencurian.
Pencurian kripto digunakan oleh Korea Utara untuk mendanai program senjata nuklir mereka.
Tahun 2025 menjadi tahun dengan pencurian kripto terbesar yang diduga dilakukan oleh peretas Korea Utara, mencapai lebih dari 2 miliar dolar AS. Angka ini adalah rekor tertinggi, mengalahkan pencurian tahun sebelumnya yang mencapai 1,35 miliar dolar AS. Kejahatan siber ini melibatkan lebih dari 30 insiden berbeda sepanjang tahun. Elliptic, perusahaan analisis blockchain yang melaporkan temuan ini, menggambarkan adanya perubahan strategi dalam metode peretas Korea Utara. Jika sebelumnya peretas lebih memanfaatkan celah teknis di infrastruktur kripto, kini serangan lebih sering dilakukan melalui rekayasa sosial yang menargetkan individu, terutama pemilik aset kripto yang bernilai tinggi. Penargetan utama masih pada bursa kripto, tapi ada peningkatan serangan terhadap individu berduit yang memiliki kripto dalam jumlah besar. Salah satu insiden terbesar tahun ini adalah pencurian senilai 1,4 miliar dolar dari bursa Bybit yang telah dikonfirmasi oleh FBI dan beberapa firma pemantau blockchain sebagai aksi Korea Utara. Jumlah pencurian sejak 2017 diperkirakan sudah mencapai minimal 6 miliar dolar AS, walaupun angka ini kemungkinan masih belum lengkap karena keterbatasan bukti pasti dan banyak insiden tidak dilaporkan. Data ini juga sejalan dengan estimasi dari Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menghubungkan dana hasil pencurian dengan pendanaan program nuklir Kim Jong-un. Kejahatan siber yang berkembang ke serangan berbasis manusia ini menekankan pentingnya peningkatan kesadaran dan edukasi keamanan di kalangan pengguna kripto. Selain dari pengembangan teknologi keamanan yang lebih kuat, perlindungan terhadap manipulasi psikologis menjadi langkah krusial untuk mencegah kerugian besar di masa depan.

Analisis Ahli

Brian Krebs
Serangan berbasis rekayasa sosial merupakan ancaman klasik yang terus berhasil karena kurangnya kewaspadaan pengguna; kasus Korea Utara ini menggarisbawahi pentingnya pelatihan keamanan yang rutin bagi semua pemilik aset digital.
Mikko Hypponen
Perpindahan metode serangan dari celah teknis ke rekayasa sosial memperlihatkan bahwa pertahanan siber harus holistik, menggabungkan teknologi dengan faktor manusia untuk mengurangi risiko pencurian.