AI summary
Korea Utara telah mencatatkan rekor pencurian kripto lebih dari $2 miliar pada tahun ini. Serangan sosial menjadi metode utama bagi hacker Korea Utara dalam melakukan pencurian. Pencurian kripto digunakan oleh Korea Utara untuk mendanai program senjata nuklir mereka. Tahun 2025 menjadi tahun dengan pencurian kripto terbesar yang diduga dilakukan oleh peretas Korea Utara, mencapai lebih dari 2 miliar dolar AS. Angka ini adalah rekor tertinggi, mengalahkan pencurian tahun sebelumnya yang mencapai 1,35 miliar dolar AS. Kejahatan siber ini melibatkan lebih dari 30 insiden berbeda sepanjang tahun.Elliptic, perusahaan analisis blockchain yang melaporkan temuan ini, menggambarkan adanya perubahan strategi dalam metode peretas Korea Utara. Jika sebelumnya peretas lebih memanfaatkan celah teknis di infrastruktur kripto, kini serangan lebih sering dilakukan melalui rekayasa sosial yang menargetkan individu, terutama pemilik aset kripto yang bernilai tinggi.Penargetan utama masih pada bursa kripto, tapi ada peningkatan serangan terhadap individu berduit yang memiliki kripto dalam jumlah besar. Salah satu insiden terbesar tahun ini adalah pencurian senilai 1,4 miliar dolar dari bursa Bybit yang telah dikonfirmasi oleh FBI dan beberapa firma pemantau blockchain sebagai aksi Korea Utara.Jumlah pencurian sejak 2017 diperkirakan sudah mencapai minimal 6 miliar dolar AS, walaupun angka ini kemungkinan masih belum lengkap karena keterbatasan bukti pasti dan banyak insiden tidak dilaporkan. Data ini juga sejalan dengan estimasi dari Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menghubungkan dana hasil pencurian dengan pendanaan program nuklir Kim Jong-un.Kejahatan siber yang berkembang ke serangan berbasis manusia ini menekankan pentingnya peningkatan kesadaran dan edukasi keamanan di kalangan pengguna kripto. Selain dari pengembangan teknologi keamanan yang lebih kuat, perlindungan terhadap manipulasi psikologis menjadi langkah krusial untuk mencegah kerugian besar di masa depan.
Kejahatan siber Korea Utara dalam dunia kripto menunjukkan adaptasi teknis dan strategis yang cepat, beralih ke serangan berbasis manusia sebagai titik lemah utama. Hal ini menandakan bahwa fokus keamanan harus lebih intens pada edukasi pengguna dan kontrol akses, bukan hanya memperbaiki celah teknis.