Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

Pencurian Crypto Terbesar Tahun 2025, Korea Utara Jadi Dalangnya

Finansial
Mata Uang Kripto
cryptocurrency (8mo ago) cryptocurrency (8mo ago)
17 Jul 2025
124 dibaca
1 menit
Pencurian Crypto Terbesar Tahun 2025, Korea Utara Jadi Dalangnya

Rangkuman 15 Detik

Pencurian kripto mencapai rekor tertinggi lebih dari $2 miliar pada paruh pertama tahun 2025.
Peretasan di ByBit oleh peretas Korea Utara menunjukkan pola yang lebih luas dalam strategi penghindaran sanksi negara tersebut.
Korea Utara semakin bergantung pada pencurian kripto untuk mendanai program senjata nuklirnya.
Saat ini, pencurian cryptocurrency mencapai rekor tertinggi dengan lebih dari 2 miliar dolar AS dicuri hanya dalam enam bulan pertama tahun 2025. Data ini datang dari perusahaan analisis blockchain Chainalysis yang memantau tren kejahatan dalam dunia crypto. Jumlah yang dicuri kali ini sudah melampaui rekor pencurian sepanjang tahun 2024. Bahkan, jika dibandingkan dengan pencurian crypto pada paruh pertama tahun 2022, jumlah pencurian tahun 2025 ini naik hingga 17 persen lebih banyak. Sebagian besar kerugian berasal dari peretasan besar pada bursa crypto ByBit, yang kemudian diketahui dilakukan oleh hacker Korea Utara. Mereka berhasil mengambil lebih dari 1,4 miliar dolar AS, dan sebagian besar dana tersebut dicuci dan dipakai untuk mendukung rezim Korea Utara. Korea Utara diketahui menggunakan cara ini untuk menghindari sanksi internasional. Mereka tidak bisa lagi mengakses sistem perbankan global, sehingga mencuri crypto menjadi strategi utama untuk mendanai program senjata mereka, khususnya program nuklir. Selain itu, Korea Utara mempekerjakan banyak pekerja IT jarak jauh yang disuruh mencuri rahasia perusahaan teknologi dan melakukan pemerasan dengan ancaman akan membocorkan data rahasia tersebut jika tidak dibayar.

Analisis Ahli

Andreas Antonopoulos
Kejahatan siber skala besar seperti ini menegaskan pentingnya pendidikan keamanan blockchain dan pengembangan protokol yang lebih tahan terhadap serangan canggih serta kolaborasi global dalam memonitor transaksi mencurigakan.
Bruce Schneier
Serangan yang melibatkan aktor negara seperti Korea Utara memperlihatkan bagaimana siber dan geopolitik kini saling terkait erat, sehingga solusi keamanan harus melibatkan aspek politik dan strategi pertahanan nasional.