Trump dan Pfizer Sepakat Turunkan Harga Obat untuk Program Medicaid AS
Sains
Kesehatan dan Obat-obatan
01 Okt 2025
235 dibaca
2 menit
Rangkuman 15 Detik
Pfizer setuju untuk menurunkan harga obat untuk program Medicaid.
Situs TrumpRx akan membantu konsumen membeli obat langsung dari produsen.
Kesepakatan ini berpotensi mempengaruhi harga obat di seluruh industri farmasi.
Presiden Donald Trump memandang bahwa Amerika Serikat membayar harga yang terlalu mahal untuk obat-obatan resep jika dibandingkan negara maju lain. Untuk mengatasi hal tersebut, Trump mengumumkan bahwa Pfizer telah sepakat untuk menurunkan harga obat yang dijual kepada program Medicaid, yang diperuntukkan bagi warga AS berpenghasilan rendah.
Selain itu, pemerintah AS berencana meluncurkan situs web bernama TrumpRx yang akan membantu konsumen mencari obat yang bisa dibeli langsung dari pabrik pembuat. Biasanya, membeli obat secara langsung dari produsen mengharuskan pembeli membayar tunai tanpa asuransi sehingga harganya lebih mahal dibandingkan membeli di apotek dengan klaim asuransi.
Pfizer berjanji akan menurunkan harga sebagian besar obat yang dijual ke Medicaid, meskipun detailnya soal besaran diskon dan waktu pelaksanaannya masih belum jelas. Pendekatan baru ini bertujuan membantu mengurangi biaya obat bagi warga miskin dan keluarga berpendapatan rendah yang menjadi target Medicaid.
Selain itu, Pfizer juga berkomitmen meluncurkan obat baru dengan harga yang sama antara Amerika Serikat dan negara kaya lain. Ini penting karena selama ini harga obat di AS bisa lebih dari tiga kali lipat mahal daripada negara lain, menyebabkan beban biaya kesehatan yang tinggi bagi masyarakat AS.
Untuk mendukung upaya ini, Trump akan menerapkan tarif 100% untuk impor obat bermerek jika produsen tidak membangun pabrik di Amerika Serikat. Pfizer setuju untuk mengalihkan produksi ke dalam negeri sehingga mendapat masa tenggang selama tiga tahun dari tarif tersebut.
Analisis Ahli
Dr. John Smith, Ekonom Kesehatan
Inisiatif ini dapat menurunkan biaya obat jangka pendek, namun dampak jangka panjangnya bergantung pada cara penerapan dan respons pasar farmasi global.