Figma Tumbuh Pesat, Tapi Apakah Sahamnya Terlalu Mahal dan Berisiko?
Finansial
Investasi dan Pasar Modal
06 Sep 2025
73 dibaca
2 menit
Rangkuman 15 Detik
Figma menunjukkan pertumbuhan pendapatan yang signifikan meskipun menghadapi kompetisi ketat.
Valuasi pasar Figma saat ini mungkin tidak mencerminkan fundamental keuangannya yang sehat.
Risiko eksekusi yang terkait dengan kepemimpinan muda Dylan Field menjadi perhatian bagi investor.
Figma baru saja mencatat pertumbuhan pendapatan sebesar 46,5% pada kuartal pertama setelah menjadi perusahaan publik. Langkah IPO-nya yang sukses membawa dana sebanyak Rp 20.04 triliun ($1,2 miliar) dan harga saham melonjak tajam dari harga awal Rp 551.10 miliar ($33 m) enjadi Rp 2.04 juta ($122) per lembar saham. Namun, harga saham tengah mengalami penurunan signifikan hingga akhir kuartal pertama laporan keuangan.
Meski pendapatan naik pesat, kekhawatiran muncul karena valuasi Figma yang sangat besar dibandingkan dengan laba bersih dan profitabilitasnya. Perusahaan masih mencatat kerugian operasional secara total jika tidak disesuaikan, meskipun keuntungan kecil muncul ketika biaya berbasis saham dikeluarkan dari perhitungan. Ini menciptakan posisi keuangan yang cukup unik dan riskan untuk investor jangka panjang.
Figma harus menghadapi persaingan sengit dari perusahaan raksasa macam Adobe, Microsoft, dan Apple yang sudah mapan di bidang perangkat lunak desain dan konten digital. Figma menawarkan produk yang bersaing langsung dengan PowerPoint, Keynote, Photoshop, dan Illustrator, serta terlibat di segmen yang berkaitan dengan kecerdasan buatan, bidang yang sangat kompetitif dan cepat berubah.
CEO Dylan Field yang memulai perusahaan sebagai lulusan keluar dari perguruan tinggi bergengsi masih dianggap berisiko karena pengalamannya yang terbatas. Kesuksesan jangka panjang Figma bergantung pada kemampuannya mempertahankan pertumbuhan penjualan, mengelola biaya dengan baik, dan berinovasi dalam menghadapi persaingan ketat dari pemain besar.
Valuasi pasar Figma sebesar Rp 444.22 triliun ($26,6 miliar) saat ini dinilai terlalu tinggi berdasarkan pendapatan sekitar Rp 16.70 triliun ($1 miliar) per tahun. Investor disarankan untuk menunggu penguatan kinerja dan profitabilitas lebih lanjut sebelum membeli saham ini, karena ada potensi penurunan harga lebih lanjut sampai risiko-risiko unik perusahaan tercermin dengan lebih baik di pasar.
Analisis Ahli
Anders Bylund
Figma menunjukkan kinerja pertumbuhan yang mengesankan, tetapi risiko kompetitif dan valuasi yang tinggi membuat saham ini kurang menarik untuk investor konservatif saat ini.