AI summary
Sanksi baru AS terhadap Iran meningkatkan kekhawatiran pasokan minyak. OPEC berusaha untuk mengatur produksi minyak di tengah tantangan pemotongan kuota. Proyeksi harga minyak dipengaruhi oleh ketegangan perdagangan global dan keputusan bank investasi. Harga minyak mencapai level tertinggi dalam dua minggu setelah Amerika Serikat memberlakukan sanksi baru untuk membatasi ekspor minyak Iran. Brent crude futures naik $1.74 menjadi $67.59 per barel, sementara West Texas Intermediate crude naik $1.80 menjadi $64.27 per barel. Kenaikan harga ini terjadi setelah sanksi baru yang dikeluarkan oleh pemerintahan Donald Trump pada hari Rabu.Sanksi tersebut termasuk terhadap kilang minyak 'teapot' di China, yang meningkatkan tekanan pada Iran di tengah pembicaraan tentang program nuklir negara tersebut. John Kilduff dari Again Capital menyatakan bahwa sanksi ini berpotensi menyebabkan kehilangan pasokan di pasar. Selain itu, Washington juga memberlakukan sanksi tambahan pada beberapa perusahaan dan kapal yang bertanggung jawab memfasilitasi pengiriman minyak Iran ke China.Di sisi pasokan, OPEC menerima rencana pemotongan produksi dari Irak, Kazakhstan, dan negara lain untuk mengkompensasi produksi yang melebihi kuota. Namun, Livia Gallarati dari Energy Aspects menyatakan bahwa ada sedikit bukti bahwa pemotongan kompensasi yang direncanakan akan dipatuhi. Meskipun demikian, beberapa lembaga seperti OPEC, International Energy Agency, Goldman Sachs, dan JPMorgan telah memangkas perkiraan harga minyak dan pertumbuhan permintaan minggu ini.
Sanksi AS yang menargetkan kilang kecil di China menunjukkan pendekatan strategis untuk menghambat ekspor minyak Iran tanpa langsung menyerang produksi besar. Namun, respons yang lambat dan ketidakpatuhan potensial dari beberapa anggota OPEC terhadap pengurangan produksi bisa memperparah ketidakseimbangan pasokan dan memperpanjang volatilitas harga minyak dunia.