Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

Pemerintah Revisi Tarif Royalti Mineral dan Batu Bara, Nikel Kenaikan Signifikan

Finansial
Kebijakan Fiskal
fiscal-policy (1y ago) fiscal-policy (1y ago)
20 Mar 2025
192 dibaca
1 menit
Pemerintah Revisi Tarif Royalti Mineral dan Batu Bara, Nikel Kenaikan Signifikan

Rangkuman 15 Detik

Pemerintah Indonesia sedang merevisi aturan royalti untuk meningkatkan kontribusi sektor pertambangan.
Kenaikan tarif royalti dapat membebani pelaku usaha, terutama di industri nikel.
Pemerintah berkomitmen untuk tidak membunuh industri pertambangan meskipun ada kenaikan tarif.
Pemerintah Indonesia sedang merevisi aturan mengenai royalti dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) di sektor mineral dan batu bara. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kontribusi sektor pertambangan terhadap penerimaan negara. Beberapa komoditas yang tarif royalti-nya akan naik antara lain batu bara, nikel, tembaga, emas, perak, dan timah. Misalnya, tarif royalti nikel direncanakan naik dari 10% menjadi 14%-19%, yang akan menjadikan Indonesia memiliki tarif tertinggi dibandingkan negara penghasil nikel lainnya. Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara, Tri Winarno, menegaskan bahwa pemerintah tidak ingin merugikan industri pertambangan, dan akan melakukan evaluasi keuangan perusahaan sebelum menaikkan tarif royalti. Selain itu, tarif royalti untuk komoditas lain juga akan mengalami perubahan, seperti batu bara yang tarifnya bisa naik hingga 13,5%, dan emas yang tarifnya akan berkisar antara 7%-16%. Kenaikan tarif ini diharapkan dapat meningkatkan pendapatan negara dari sektor pertambangan.

Analisis Ahli

Tri Winarno
Pemerintah menyesuaikan tarif royalti untuk mengoptimalkan pendapatan negara tanpa memberatkan industri tambang di dalam negeri.
Meidy Katrin Lengkey
Kenaikan tarif royalti nikel akan menambah beban pelaku usaha, terutama saat harga nikel dunia sedang turun dan tarif Indonesia menjadi yang tertinggi.