Pomodo Logo IconPomodo Logo Icon
Tanya PomodoSemua Artikel
Semua
Fokus
Sains

Terobosan dalam Kognisi dan Perilaku Adaptif Hewan

Share

Penelitian terbaru mengungkap kemampuan kognitif kompleks pada hewan, dari kemampuan perencanaan untuk masa depan, penggunaan alat, hingga komunikasi berbasis nama. Temuan ini melibatkan berbagai organisme yang menantang pandangan konvensional tentang kecerdasan hewan.

28 Jan 2026, 20.30 WIB

Burung Gagak Buktikan Manusia Bukan Satu-satunya yang Bisa Merencanakan Masa Depan

Burung Gagak Buktikan Manusia Bukan Satu-satunya yang Bisa Merencanakan Masa Depan
Banyak orang percaya bahwa kemampuan merencanakan masa depan adalah unik untuk manusia dan primata karena otak mereka yang besar dan kompleks. Namun, penelitian terbaru dari Lund University di Swedia memperlihatkan bahwa burung gagak juga punya kemampuan merencanakan masa depan, sama cerdasnya dengan primata. Para peneliti melakukan percobaan dengan memberikan gagak sebuah kotak berisi alat yang hanya bisa digunakan beberapa jam kemudian untuk mendapatkan makanan. Gagak-gagak tersebut berhasil mengingat dan menggunakan alat itu pada waktunya, menunjukkan kemampuan perencanaan yang jauh dari sekadar naluri menyimpan makanan. Selain itu, gagak juga dapat memilih menunda kepuasan dengan menyimpan token untuk ditukar dengan hadiah yang lebih besar nanti. Dalam hal ini, mereka bahkan kadang-kadang mengalahkan beberapa primata besar dalam tugas-tugas yang menguji kemampuan bernegosiasi dan berencana secara sosial. Temuan ini sangat menarik karena otak gagak tidak memiliki neokorteks seperti mamalia, namun mereka tetap menunjukkan kemampuan kognitif yang kompleks. Ini menegaskan bahwa kecerdasan dan perencanaan bukan hanya tergantung pada struktur otak tertentu tapi lebih pada fungsi yang dihasilkan. Penemuan pada gagak ini membuka wawasan bagaimana kecerdasan muncul di alam dan membuat kita harus mempertimbangkan kembali batasan antara kecerdasan manusia dan hewan. Ilmu pengetahuan kini berpeluang menemukan kemampuan kognitif yang sebelumnya tidak kita ketahui pada makhluk lain.
27 Jan 2026, 20.10 WIB

Rahasia Nama Lumba-Lumba: Komunikasi Suara Unik yang Mirip Manusia

Rahasia Nama Lumba-Lumba: Komunikasi Suara Unik yang Mirip Manusia
Lumba-lumba terkenal karena kecerdasannya yang tinggi dan kemampuan sosial yang kompleks. Salah satu aspek menarik dari komunikasi mereka adalah penggunaan 'signature whistles' atau suara khas yang berfungsi seperti nama unik individu. Setiap lumba-lumba mengembangkan suara ini sejak kecil dan mempertahankannya sepanjang hidup sebagai tanda pengenal. Berbeda dengan panggilan hewan lainnya yang berubah-ubah sesuai suasana hati atau lingkungan, signature whistle lumba-lumba selalu konsisten dan hanya mengandung informasi identitas. Penelitian telah menunjukkan bahwa lumba-lumba mampu mengenali siapa yang memanggil mereka hanya dari suara tanda tangan tersebut, bahkan ketika unsur lain dari suara dihilangkan. Selain itu, lumba-lumba dapat meniru suara tanda tangan lumba-lumba lain, khususnya milik teman dekat, untuk memanggil dan berinteraksi secara spesifik, mirip seperti kita menyebut nama seseorang dalam percakapan. Ini menunjukkan tingkat komunikasi yang sangat canggih di antara mereka. Studi terbaru juga mengungkap bahwa lumba-lumba memiliki memori sosial jangka panjang yang luar biasa, dimana mereka dapat mengenali suara tanda tangan lumba-lumba lain meskipun sudah lama terpisah. Kemampuan ini sangat membantu dalam mempertahankan ikatan sosial dalam lingkungan laut yang luas dan terbatas visibilitasnya. Meskipun banyak aspek dari sistem komunikasi ini masih belum sepenuhnya dipahami, kemajuan teknologi terbaru membantu ilmuwan untuk terus meneliti dan mengembangkan pengetahuan tentang bahasa dan kecerdasan lumba-lumba. Penemuan ini membuktikan bahwa konsep nama, identitas, dan ikatan sosial tidak hanya milik manusia saja.
26 Jan 2026, 08.50 WIB

Sapi Veronika Tunjukkan Kecerdasan Luar Biasa dengan Penggunaan Alat Adaptif

Sapi Veronika Tunjukkan Kecerdasan Luar Biasa dengan Penggunaan Alat Adaptif
Seekor sapi bernama Veronika yang berjenis Swiss Brown menunjukkan kemampuan unik dalam menggunakan alat untuk menggaruk bagian tubuhnya yang gatal. Kejadian ini menarik perhatian karena penggunaan alat seperti ini sangat jarang ditemukan pada hewan non-primata, termasuk sapi. Veronika adalah sapi peliharaan petani dan pembuat roti asal Austria, Witgar Wiegele. Kemampuannya menggunakan tongkat untuk mengatasi rasa gatal bukan hanya kebiasaan tetapi merupakan sebuah perilaku adaptif yang mengesankan bagi para peneliti. Para peneliti dari Universitas Kedokteran Hewan Austria, Alice Auersperg dan Antonio Osuna-Mascaro, melakukan eksperimen dengan memberikan Veronika sebuah sapu yang memiliki dua ujung berbeda. Sapi ini mampu memilih bagian sapu yang sesuai untuk menggaruk bagian tertentu dari tubuhnya. Veronika menunjukkan ketajaman dalam memilih bagian sapu: sisi sikat digunakan untuk bagian kulit yang tebal dan sisi gagang untuk kulit yang lebih tipis. Ini menunjukkan bahwa sapi mampu menyesuaikan penggunaan alat berdasarkan kondisi yang dihadapi. Temuan ini menunjukkan bahwa penggunaan alat pada tubuh sendiri oleh Veronika adalah bentuk kecerdasan yang rumit dan adaptif. Ini membuka kemungkinan penelitian baru tentang kemampuan kognitif hewan ternak dan memberikan wawasan penting terkait interaksi manusia dan hewan.

Baca Juga

  • Rebalancing Ilmu Pengetahuan Global: Migrasi Talenta AS–Cina dan Investasi Kolaboratif

  • Tantangan Meningkat di Indonesia: Cuaca Ekstrem dan Bahaya Geologis

  • Peringatan Megatsunami Apokaliptik: Gelombang 200 Meter Mengancam

  • Reformasi Penerbitan Ilmiah di Era Media Sosial

  • Pengungkapan Kosmik: Menyingkap Rahasia Pembentukan Bintang dan Supernova