Pomodo Logo IconPomodo Logo Icon
Tanya PomodoSemua Artikel
Semua
Fokus
Bisnis

Davos dan WEF 2026: Membentuk Kepemimpinan Global di Tengah Perubahan Ekonomi

Share

Pertemuan di Davos dan WEF 2026 menunjukkan bagaimana para pemimpin dunia dan eksekutif perusahaan beradaptasi dengan tantangan geopolitik dan perubahan ekonomi. Diskusi intensif dan agenda strategis di acara ini mengungkap langkah-langkah penting untuk membangun kepercayaan, mengintegrasikan perspektif regional, dan merumuskan kebijakan yang dapat meningkatkan kerjasama global.

25 Jan 2026, 18.30 WIB

Keberanian Korporasi di Era AI: Hak Asasi dan Batas Sumber Daya Jadi Tantangan Utama

Keberanian Korporasi di Era AI: Hak Asasi dan Batas Sumber Daya Jadi Tantangan Utama
Pertemuan World Economic Forum di Davos tahun 2026 menyoroti ketegangan baru yang dihadapi para pemimpin perusahaan di era kecerdasan buatan (AI) yang berkembang sangat cepat. Para eksekutif harus mempertimbangkan bagaimana AI dapat meningkatkan produktivitas sekaligus menimbulkan pengangguran dan ketidakstabilan sosial. Kondisi global yang tidak stabil membuat cara lama dalam mengelola risiko menjadi kurang efektif. Masalah hak asasi manusia menjadi pusat perhatian saat pemerintah di beberapa negara gagal melindungi masyarakatnya. Dalam situasi tersebut, perusahaan yang beroperasi di negara-negara tersebut dianggap memiliki tanggung jawab untuk mematuhi norma internasional. Jika tidak, perusahaan malah ikut memperparah kerugian yang terjadi di komunitas lokal, yang nantinya bisa berujung pada konflik dan kerusakan reputasi. Sumber daya alam seperti air dan energi ternyata penting sekali dalam menjalankan bisnis di era ini. Air, khususnya, sudah bukan lagi soal kepatuhan saja melainkan faktor utama yang bisa menentukan keberhasilan atau kegagalan proyek. Banyak komunitas mulai menolak proyek yang menurut mereka akan memperparah kelangkaan air dan merusak sistem infrastruktur yang sudah tua dan kurang terawat. AI sebagai teknologi masa depan ternyata memiliki dampak negatif pada lingkungan karena penggunaan energi dan air yang besar, serta ketergantungan pada mineral langka. Sebagian besar model AI dibuat di negara maju dan digunakan di negara berkembang, yang menimbulkan ketidakseimbangan dan memperdalam masalah sosial di komunitas-komunitas yang sudah rentan secara lingkungan dan hak asasi manusia. Untuk bisa bertahan di tengah ketidakpastian dan berbagai tekanan, perusahaan harus membangun sistem yang akuntabel, menganggap keterbatasan sumber daya sebagai kenyataan strategis, serta memperkuat hubungan dengan komunitas lokal dan tata kelola yang transparan. Keberanian korporasi kini diukur bukan dari janji-janji, tapi dari tindakan nyata yang mengutamakan norma dasar dan akuntabilitas.
24 Jan 2026, 18.00 WIB

Grab Bawa UMKM Kopi Nusantara ke Forum Ekonomi Dunia di Davos

Grab Bawa UMKM Kopi Nusantara ke Forum Ekonomi Dunia di Davos
Grab Indonesia mengajak salah satu mitra UMKM kopinya, Coffeenatics dari Medan, untuk mewakili Indonesia dalam pameran kopi nusantara di World Economic Forum (WEF) 2026 yang diadakan di Davos, Swiss. Ini menunjukkan bagaimana UMKM lokal bisa bertransformasi dan berpartisipasi dalam diskusi ekonomi global. Grab meluncurkan program senilai Rp100 miliar bernama 'Grab untuk Indonesia' yang mendukung mitra UMKM dengan pemberian bonus, perlindungan sosial melalui BPJS Ketenagakerjaan, dan program pelatihan untuk meningkatkan kemampuan UMKM agar lebih kompetitif. Coffeenatics sendiri merupakan bisnis kopi artisan yang telah berkembang pesat sejak 2015 dengan cakupan pasar sampai ke luar negeri seperti Singapura. Mereka juga aktif bekerja sama dengan petani kopi lokal dan memberikan pelatihan kepada komunitas demi bisnis yang berkelanjutan. CEO Grab Indonesia, Neneng Goenadi, menekankan pentingnya teknologi dan kemitraan dalam memperkuat ekonomi digital yang inklusif dan memastikan pertumbuhan UMKM tidak hanya dari segi jumlah, tapi juga kualitas usaha dan keberlanjutan penghidupan pelaku usaha. Selain berpartisipasi di paviliun Indonesia, Grab juga aktif dalam diskusi panel di WEF Davos 2026, memaparkan peran teknologi dalam ekonomi digital, serta menjalankan program Kolaborasi Nyata Untuk Masa Depan untuk mendigitalisasi lebih dari 200.000 UMKM di kota kecil.
24 Jan 2026, 12.18 WIB

Telkomsel Tampilkan Peran Kunci dalam Transformasi Digital Indonesia di WEF 2026

Telkomsel Tampilkan Peran Kunci dalam Transformasi Digital Indonesia di WEF 2026
Telkomsel menegaskan perannya sebagai penggerak utama transformasi digital nasional dengan berpartisipasi aktif dalam World Economic Forum (WEF) Annual Meeting 2026 di Davos, Swiss. Kehadiran ini menjadi bagian dari kontribusi Indonesia melalui Indonesia Pavilion dan Indonesia Incorporated Corner, yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan dari pemerintah, BUMN, hingga dunia usaha dan mitra global. Indonesia Incorporated Corner menjadi ruang kolaboratif untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai mitra ekonomi yang kredibel dan berorientasi pada nilai jangka panjang. Telkomsel sebagai anggota TelkomGroup yang dikelola secara profesional oleh Danantara menunjukkan bagaimana aset strategis negara bisa dikelola untuk daya saing industri sekaligus nilai publik yang berkelanjutan. Direktur Utama Telkomsel, Nugroho, menegaskan tantangan industri telekomunikasi yang makin matang dan jenuh mengharuskan operator seluler tersebut menerapkan pendekatan adaptif berbasis teknologi, seperti penerapan kecerdasan artifisial (AI) demi meningkatkan daya saing. Telkomsel membuka diri terhadap berbagai peluang bisnis dan kolaborasi lintas ekosistem yang relevan dan berkelanjutan, tidak hanya mengandalkan pertumbuhan horizontal, tetapi juga eksplorasi vertikal dan kemitraan strategis global. Forum seperti WEF menjadi ruang yang penting untuk belajar dan bertukar perspektif. Melalui kehadirannya di WEF 2026, Telkomsel menegaskan posisinya sebagai jembatan antara transformasi digital nasional dan ekosistem global, berkomitmen memperkuat peran sebagai penyedia infrastruktur digital dan enabler transformasi untuk mendukung ekonomi digital Indonesia yang inklusif, tangguh, dan berkelanjutan.
16 Jan 2026, 13.25 WIB

Davos 2026: Menyelesaikan Dilema AI, Kerja Sama Global, dan Pertumbuhan Berkelanjutan

Davos 2026: Menyelesaikan Dilema AI, Kerja Sama Global, dan Pertumbuhan Berkelanjutan
Setiap tahun, World Economic Forum diadakan di Davos, Swiss, untuk mengumpulkan para pemimpin dunia dari politik, bisnis, dan akademisi dengan tujuan mengatasi masalah global. Pada tahun 2026, fokus utama adalah pada dialog mendalam yang melampaui bahasa diplomasi biasa, mengupas konflik kepentingan yang memengaruhi kerja sama internasional, pertumbuhan ekonomi, dan penggunaan teknologi modern. Salah satu topik kritis adalah percepatan penggunaan kecerdasan buatan (AI) yang membawa peluang dan risiko besar. Meskipun AI dapat meningkatkan inovasi dan efisiensi, ada kekhawatiran mengenai pelanggaran privasi, penyebaran informasi palsu, dan ketidakadilan dalam pengambilan keputusan oleh mesin. Para pemimpin perlu mendiskusikan bagaimana regulasi dan tata kelola yang baik bisa menjaga kepercayaan masyarakat. Selain itu, kerja sama global menghadapi tantangan serius. Dengan munculnya kebijakan proteksionis dan fragmentasi organisasi internasional seperti NATO dan Uni Eropa, semakin sulit untuk mengatasi masalah yang bersifat lintas batas, seperti perubahan iklim dan keamanan energi. Pertanyaannya adalah apakah negara-negara akan mampu bersatu di tengah persaingan geopolitik yang meningkat. Permasalahan lingkungan dan ekonomi juga menimbulkan pertarungan antara kebutuhan pertumbuhan ekonomi saat ini dan keberlanjutan jangka panjang planet. Investasi besar diperlukan untuk transisi ke energi bersih dan menjaga keanekaragaman hayati, namun politik domestik yang lemah dan meningkatnya utang nasional menghambat langkah tersebut. Diskusi penting akan berkisar pada batas kompromi yang bisa diterima demi masa depan manusia. Terakhir, dampak AI terhadap pekerjaan manusia menjadi sorotan. WEF memprediksi bahwa otomatisasi akan menciptakan pekerjaan baru, namun kebijakan dan kepemimpinan global sangat dibutuhkan untuk melatih tenaga kerja agar siap menghadapi revolusi industri keempat. Pada akhirnya, para peserta Davos 2026 berupaya merumuskan keseimbangan antara keuntungan ekonomi dan tanggung jawab sosial dalam menghadapi tantangan zaman.

Baca Juga

  • Konsolidasi Strategis Perusahaan Elon Musk dan Pengaruh Globalnya

  • Balapan Penerbangan China: Meningkatkan Pesawat Dalam Negeri dan Meninjau Peran Pilot

  • Kreator Mengkritisi Paradigma Baru TikTok

  • Pergantian Kepemimpinan di Arena E-Commerce Indonesia

  • Revolusi Legal Tech Berbasis AI: Transformasi Inteligensi Kontrak