Pomodo Logo IconPomodo Logo Icon
Tanya PomodoSemua Artikel
Semua
Fokus
Bisnis

Inovasi Alur Kerja Bisnis Berbasis AI

Share

Cerita ini mengeksplorasi bagaimana startup dan perusahaan mengintegrasikan kecerdasan buatan untuk mengotomatisasi dan mengoptimalkan alur kerja di lingkungan korporat. Dari penjadwalan otomatis hingga analisis kontrak, inovasi ini menawarkan solusi untuk meningkatkan efisiensi operasional dan produktivitas, serta mendorong transformasi digital di sektor bisnis.

27 Jan 2026, 23.54 WIB

Mengapa 95% Perusahaan Gagal Maksimalkan Manfaat Generative AI

Mengapa 95% Perusahaan Gagal Maksimalkan Manfaat Generative AI
Banyak perusahaan menginvestasikan puluhan miliar dolar dalam teknologi generative AI dengan harapan mempercepat dan mengubah cara kerja mereka. Namun, sebuah laporan menunjukkan bahwa 95% perusahaan tersebut tidak merasakan dampak positif pada keuntungan mereka, meskipun sebagian besar sudah mencoba berbagai alat populer seperti ChatGPT dan Copilot. Masalah utama berasal dari penggunaan AI yang hanya pada tingkat tugas individual yang terpisah-pisah tanpa mengintegrasikan alat tersebut dalam proses bisnis yang lebih luas. Karyawan cenderung memakai AI hanya untuk mempercepat pekerjaan kecil tanpa mengubah alur kerja secara keseluruhan, sehingga manfaat yang didapat tidak berdampak signifikan pada organisasi. Berbeda dengan chatbot yang statis, perusahaan yang sukses mulai menggunakan agen AI otonom yang dapat belajar, beradaptasi, dan melaksanakan tugas multi langkah secara mandiri. Teknologi ini memungkinkan otomatisasi dan peningkatan proses yang berkelanjutan tanpa perlu banyak campur tangan manusia. Salah satu hambatan lain yang dihadapi adalah penggunaan AI secara tidak resmi alias 'shadow economy' dalam perusahaan, di mana karyawan memakai alat AI tanpa keterbukaan kepada manajemen. Hal ini memicu isu terkait aturan penggunaan dan transparansi yang penting untuk tata kelola teknologi AI yang efektif. Untuk meraih manfaat nyata dari generative AI, para pemimpin bisnis harus berani memetakan ulang workflow, mengidentifikasi titik-titik hambatan, serta membangun sistem yang memungkinkan AI terintegrasi dan berkembang seiring waktu. Investasi awal untuk merombak proses ini memang besar, tetapi manfaat jangka panjangnya akan jauh lebih besar dan berkelanjutan.
27 Jan 2026, 08.30 WIB

SpotDraft Raih Rp 133.60 miliar ($8 Juta) Untuk Kembangkan AI Review Kontrak Aman Tanpa Cloud

SpotDraft Raih Rp 133.60 miliar ($8 Juta)  Untuk Kembangkan AI Review Kontrak Aman Tanpa Cloud
SpotDraft baru saja mendapatkan tambahan investasi sebesar 8 juta dolar dari Qualcomm Ventures sebagai perluasan dari pendanaan Seri B mereka. Pendanaan ini digunakan untuk mempercepat pengembangan teknologi AI yang dapat bekerja langsung di perangkat pengguna tanpa harus mengirimkan dokumen kontrak sensitif ke cloud, sehingga menjamin keamanan dan privasi data dalam proses review kontrak. Karena sektor hukum dan bidang industri lain seperti pertahanan dan farmasi memiliki aturan ketat terkait data, penggunaan AI yang bisa berjalan secara offline di laptop menjadi sangat diminati. SpotDraft menunjukkan teknologi VerifAI yang dapat melakukan pemeriksaan, penilaian risiko, dan pengeditan kontrak secara end-to-end tanpa koneksi internet setelah login dan lisensi berhasil, menjaga kerahasiaan dokumen di perangkat lokal. SpotDraft sudah memiliki lebih dari 700 pelanggan di seluruh dunia dan platform mereka digunakan untuk mengelola lebih dari satu juta kontrak setiap tahun. Pertumbuhan pelanggan dan volume kontrak terus meningkat pesat, dengan proyeksi pendapatan yang melesat dua digit setiap tahunnya selama beberapa tahun ke depan. Selain pendanaan, Qualcomm dan SpotDraft berencana menjalin kerja sama untuk mengembangkan produk dan strategi pemasaran bersama, mengingat prosesor Snapdragon terbaru bisa menjalankan model AI dengan cepat dan efisien di perangkat. Teknologi ini memberikan alternatif bagi perusahaan di sektor yang membutuhkan proteksi data ekstra tanpa menurunkan kualitas dan kecepatan kerja AI. SpotDraft berpusat di Bengaluru dan New York, dengan tim lebih dari 300 orang yang fokus memperluas jangkauan mereka di Amerika, EMEA, dan India. Pendekatan mereka membuktikan bahwa masa depan AI perusahaan berada pada pengolahan data lokal, terutama untuk dokumen hukum yang sangat sensitif dan memerlukan kepatuhan tinggi terhadap regulasi privasi.
23 Jan 2026, 09.29 WIB

Blockit: Kalender AI Otomatis yang Gantikan Jadwal Manual di Dunia Startup

Blockit: Kalender AI Otomatis yang Gantikan Jadwal Manual di Dunia Startup
Kais Khimji, mantan partner dari firma modal ventura terkenal Sequoia Capital, akhirnya memulai startup sendiri bernama Blockit yang menggunakan kecanggihan AI untuk mengatur jadwal secara otomatis. Ide ini sudah lama ia kembangkan sejak menjadi mahasiswa di Harvard, dan kini direalisasikan dengan dukungan investasi dari Sequoia. Blockit membedakan diri dengan tidak hanya bergantung pada link penjadwalan seperti yang dilakukan dengan pemimpin pasar saat ini, Calendly. Sebaliknya, Blockit memanfaatkan agen AI yang dapat berkomunikasi langsung satu sama lain untuk mengatur waktu pertemuan yang cocok bagi semua pihak tanpa perlu email bolak-balik. Pengguna cukup mengajak Blockit ke dalam percakapan email atau Slack, lalu agen AI tersebut mengambil alih proses penjadwalan sesuai dengan preferensi pengguna. Bahkan, sistem dapat belajar untuk mengutamakan jenis pertemuan berdasar nada email dan aturan lain yang dibuat pengguna. Pendekatan Blockit ini dianggap inovatif karena mengatasi kesulitan klasik dalam pengelolaan kalender yang terpisah dan tidak bisa 'berbicara' satu sama lain. Teknologi ini sudah digunakan lebih dari 200 perusahaan dari berbagai sektor, termasuk startup AI, fintech, dan firma modal ventura besar. Layanan Blockit tersedia gratis selama 30 hari, kemudian berbayar dengan harga 1.000 dolar AS per tahun untuk pengguna individu dan 5.000 dolar AS per tahun untuk lisensi tim. Dengan dukungan teknologi AI dan investor kuat, Blockit berpotensi mengubah cara dunia mengatur waktu dan jadwal secara digital.
20 Jan 2026, 23.00 WIB

Startup Humans& Raih 480 Juta Dolar Untuk Kembangkan AI yang Memberdayakan Manusia

Startup Humans& Raih 480 Juta Dolar Untuk Kembangkan AI yang Memberdayakan Manusia
Startup Humans& baru saja mendapatkan pendanaan sebesar 480 juta dolar dengan valuasi perusahaan mencapai 4,48 miliar dolar. Perusahaan ini berdiri dengan filosofi bahwa AI harus membantu dan memberdayakan manusia, bukan menggantikan mereka. Pendanaan ini menunjukkan tingginya minat investor terhadap teknologi AI yang berorientasi pada kolaborasi manusia. Pendiri Humans& terdiri dari sejumlah tokoh berpengalaman, seperti Andi Peng, mantan peneliti Anthropic, dan Georges Harik yang pernah bekerja di Google sejak masa awal perusahaan tersebut. Selain itu, ada juga mantan peneliti dari xAI serta profesor dari Stanford. Tim mereka juga didukung oleh talenta dari perusahaan AI terkemuka seperti OpenAI dan Meta. Konsep utama Humans& adalah membangun software yang memungkinkan manusia berkolaborasi satu sama lain dengan bantuan AI, yang konsepnya mirip aplikasi pesan instan. AI ini bisa meminta informasi dari pengguna dan menyimpan informasi itu untuk digunakan kemudian, sehingga interaksi menjadi lebih dinamis dan cerdas dari waktu ke waktu. Perusahaan menaruh perhatian khusus pada pengembangan metode pelatihan model AI yang baru dan juga bagaimana manusia bisa berinteraksi dengan AI secara lebih alami dan produktif. Mereka ingin menghasilkan AI yang berfungsi sebagai penghubung utama yang mempersatukan organisasi dan komunitas. Humans& berharap teknologi mereka dapat mendorong inovasi di bidang reinforcement learning yang berjangka panjang, kemampuan multi-agen, memori AI, serta pemahaman pengguna. Pendanaan besar ini memungkinkan mereka untuk fokus pada riset mendalam sekaligus pengembangan produk yang bisa dipakai oleh banyak orang.
20 Jan 2026, 20.00 WIB

Startup Ivo Raih Pendanaan 55 Juta Dolar dengan AI Cerdas untuk Tim Hukum Internal

Startup Ivo Raih Pendanaan 55 Juta Dolar dengan AI Cerdas untuk Tim Hukum Internal
Ivo adalah startup teknologi legal yang berbasis di San Francisco dan telah mengembangkan perangkat lunak AI yang membantu tim hukum internal dalam meninjau, mengelola, dan menganalisis kontrak secara besar-besaran. Produk ini memudahkan perusahaan besar untuk menghemat hingga 75% waktu yang biasanya diperlukan dalam peninjauan kontrak secara manual. Setelah mengalami pertumbuhan pendapatan yang sangat cepat dalam kurun waktu kurang dari satu tahun, Ivo berhasil menggalang pendanaan Seri B sebesar 55 juta dolar AS. Pendanaan ini dipimpin oleh investor lama Blackbird dan diikuti oleh beberapa investor lainnya, dengan valuasi perusahaan yang kini lima kali lipat dibanding sembilan bulan lalu. Ivo memiliki fokus khusus untuk melayani tim hukum internal perusahaan, bukan firma hukum, karena kebutuhan dan dinamika mereka sangat berbeda. Teknologi yang dipakai memungkinkan penilaian kontrak secara cepat dan akurat, serta analisis menyeluruh terhadap perpustakaan kontrak perusahaan tanpa perlu penandaan manual. Untuk mencapai tingkat akurasi tinggi, Ivo menggunakan proses rumit yang menggabungkan lebih dari 400 panggilan model AI dalam satu peninjauan kontrak, sehingga hasilnya dapat dimengerti dan diaudit oleh para pengacara. Konsep ini mirip dengan bekerja dengan junior lawyer yang walaupun tidak sempurna, outputnya mudah diikuti dan dapat dipercaya. Ivo sudah digunakan oleh berbagai perusahaan besar seperti Uber, Shopify, dan IBM, dengan peningkatan pengguna serta adopsi signifikan di kalangan perusahaan Fortune 500. Mereka juga berencana menambah lebih dari tiga kali lipat jumlah karyawan dan membuka kantor baru di New York dan London tahun ini.

Baca Juga

  • Konsolidasi Strategis Perusahaan Elon Musk dan Pengaruh Globalnya

  • Balapan Penerbangan China: Meningkatkan Pesawat Dalam Negeri dan Meninjau Peran Pilot

  • Kreator Mengkritisi Paradigma Baru TikTok

  • Pergantian Kepemimpinan di Arena E-Commerce Indonesia

  • Revolusi Legal Tech Berbasis AI: Transformasi Inteligensi Kontrak