
Perusahaan smartphone asal China, Xiaomi dan Transsion, baru-baru ini mengumumkan penurunan besar dalam target produksi smartphone mereka untuk tahun 2026. Penurunan ini disebabkan oleh krisis pasokan memori yang melanda industri teknologi global, khususnya karena tingginya permintaan untuk aplikasi kecerdasan buatan (AI).
Xiaomi, yang sebelumnya menargetkan produksi sebesar 180 juta unit, berencana menurunkan targetnya hingga 70 juta unit. Sementara itu, Transsion juga menurunkan target pengirimannya sebanyak 30 hingga 45 juta unit dari target awal sekitar 115 juta unit. Semua perubahan ini diumumkan berdasarkan informasi dari sumber rantai pasokan industri.
Krisis memori ini terjadi karena tiga perusahaan pemasok memori terbesar dunia yaitu Samsung Electronics, SK Hynix, dan Micron Technology sedang mengalihkan kapasitas produksi mereka untuk memenuhi kebutuhan sektor AI. Kejadian ini menyebabkan suplai memori untuk produk konsumen seperti smartphone menjadi terbatas dan harga komponen memori melonjak.
Dampaknya sangat terasa oleh Xiaomi dan Transsion sebagai produsen smartphone terbesar di China. Kenaikan harga memori ini memaksa mereka untuk menyesuaikan target pengiriman dan bahkan bisa memengaruhi ketersediaan smartphone di pasar global sejak tahun 2026.
Ke depan, dampak ini diperkirakan dapat mengubah dinamika pasar smartphone terutama dalam hal harga dan pasokan. Perusahaan smartphone diharapkan untuk mencari strategi baru agar bisa bertahan di tengah krisis suku cadang serta menghadapi persaingan yang semakin ketat.