Peretasan Rp 4.76 triliun ($285 Juta) Drift Protocol Ungkap Jejak Hacker Korea Utara di Solana
Teknologi
Keamanan Siber
02 Apr 2026
150 dibaca
1 menit

Rangkuman 15 Detik
Eksploitasi Protokol Drift menunjukkan pola yang terencana dari aktivitas pencurian aset kripto oleh DPRK.
Penggunaan metode pencucian lintas rantai menunjukkan kompleksitas dalam menyelidiki aktivitas keuangan ilegal di blockchain.
DPRK terus melakukan pencurian besar-besaran dari aset kripto untuk mendanai program senjata mereka.
Drift Protocol mengalami peretasan senilai 285 juta dolar AS, yang menjadi peretasan terbesar di tahun ini dan diduga melibatkan kelompok peretas DPRK berdasarkan perilaku onchain dan metode pencucian uang yang terindikasi. Drift adalah bursa perpetual futures terbesar di blockchain Solana dan nilai tokennya turun lebih dari 40% akibat insiden ini.
Elliptic mengidentifikasi pola operasional yang terencana dengan baik, termasuk pengujian awal dan pemindahan dana cepat dari dompet interim ke berbagai alamat yang berbeda, serta pencucian terjadi lintas rantai dari Solana ke Ethereum dan aset kripto lain untuk menyamarkan asal dana. Solana yang memiliki model akun terpisah mempersulit pelacakan tanpa pengelompokan alamat.
Insiden ini menambah daftar kejahatan DPRK yang sudah mencapai 18 kali tahun ini dengan total kerugian lebih dari 300 juta dolar, memperkuat bukti bahwa Korea Utara menggunakan hasil curian untuk membiayai program senjata pemusnah massal. Laporan ini menekankan pentingnya pelacakan lintas rantai yang holistik agar serangan serupa tidak terulang.
Analisis Ahli
Andreas M. Antonopoulos
Serangan semacam ini membuktikan pentingnya transparansi blockchain dan perlunya protokol keamanan yang mampu mengidentifikasi pola pencucian uang lanjutan, sekaligus mengedukasi komunitas tentang risiko terkait.Neha Narula
Teknologi blockchain harus berkembang ke arah interoperabilitas dan analitik data yang kuat agar ancaman lintas rantai dapat dideteksi lebih cepat dan efektif.
