Eskalasi Konflik Timur Tengah: Bitcoin Stabil Saat Pasar Global Tertekan
Finansial
Mata Uang Kripto
24 Mar 2026
71 dibaca
1 menit

Rangkuman 15 Detik
Bitcoin menunjukkan ketahanan meskipun pasar tradisional mengalami tekanan.
Keterlibatan Arab Saudi dalam konflik dapat memperburuk situasi geopolitik di Timur Tengah.
Penurunan harga emas mencerminkan ketidakpastian yang melanda pasar global.
Ketegangan di Timur Tengah meningkat setelah Saudi Arabia dan UAE memberikan akses militer kepada AS, membuka kemungkinan perluasan konflik regional melawan Iran. Perang yang lebih luas dapat berubah dari operasi terbatas menjadi koalisi regional yang signifikan. Selat Hormuz yang strategis menjadi hampir tertutup, memperparah risiko gangguan pasokan minyak.
Bitcoin naik 3,1% ke Rp 1.17 juta ($70.352) pada Selasa pagi, sementara aset tradisional seperti saham dan emas melemah tajam. S&P 500 futures turun 0,5%, harga minyak Brent naik 4% ke sekitar Rp 1.74 juta ($104) per barel, dan emas jatuh karena likuidasi paksa dana investasi. Ini menunjukkan pasar kripto relatif stabil dibandingkan pasar tradisional yang terguncang.
Ketidakpastian konflik dan risiko eskalasi akan membuat pasar tetap volatil dalam beberapa hari mendatang. Perubahan posisi Saudi Arabia dan UAE bisa mengubah strategi perang dan mempengaruhi harga minyak serta pasar keuangan global. Pergerakan harga aset ke depan akan sangat bergantung pada berita dan perkembangan situasi di Timur Tengah.
Analisis Ahli
Paul Krugman
Konflik yang membesar di Timur Tengah akan menimbulkan ketidakpastian ekonomi global yang lebih besar, meningkatkan risiko stagflasi akibat harga minyak yang tinggi dan gangguan perdagangan.Catherine Coley
Bitcoin menunjukkan sifat resilien yang mulai menarik perhatian lebih luas sebagai 'safe haven' baru di tengah konflik geopolitik dan volatilitas pasar tradisional.

