Penemuan Jam Biologis 20 Jam pada Ubur-Ubur Menantang Pemahaman Sirkadian
Sains
Kesehatan dan Obat-obatan
20 Mar 2026
142 dibaca
1 menit

Rangkuman 15 Detik
Clytia sp. IZ-D menunjukkan ritme sirkadian yang unik dengan siklus 20 jam.
Penelitian ini membuka wawasan baru tentang mekanisme biologis yang berbeda dalam menjaga ritme waktu di dunia hewan.
Keberadaan hormon yang berperan dalam pematangan gamet memberikan insight baru mengenai reproduksi jellyfish.
Para peneliti menemukan spesies ubur-ubur hidrozoa baru di Jepang yang memiliki jam biologis internal dengan siklus 20 jam, berbeda dari siklus 24 jam pada kebanyakan hewan. Spesies ini kehilangan gen CLOCK, BMAL1 dan CRY yang biasanya mengatur jam sirkadian di hewan lain, namun tetap menunjukkan ritme internal yang dipengaruhi cahaya.
Observasi laboratorium mengungkapkan bahwa ubur-ubur tersebut melakukan pemijahan pada malam hari sekitar dua jam setelah matahari terbenam, diduga akibat mekanisme hormon yang perlahan mendorong pematangan gamet selama sekitar 14 jam. Mekanisme ini berbeda dari spesies kerabat dekatnya, C. hemisphaerica, yang memijahkan gamet beberapa jam setelah matahari terbit.
Temuan ini menantang pandangan tradisional tentang jam biologis dan menunjukkan keberadaan sistem penanggalan internal yang beragam di alam. Para peneliti berencana membandingkan genom untuk memahami molekul yang mengatur jam 20 jam dan timer hormon 14 jam, yang dapat membuka wawasan baru tentang evolusi dan fungsi jam biologis.
Analisis Ahli
Ann Tarrant
Penemuan ini sangat menarik karena menunjukkan jam biologis pada hewan yang kehilangan gen utama ritme sirkadian, memperlihatkan adanya keanekaragaman yang sebelumnya diabaikan dalam mekanisme biologi waktu.Ezio Rosato
Sistem jam biologis tidak harus bergantung pada gen yang sudah dikenal, melainkan bisa dibangun dari rangkaian reaksi molekuler yang terorganisir, membuka peluang penelitian jam biologis yang sangat berbeda di alam.Kristin Tessmar-Raible
Penemuan ini mungkin menantang standar definisi ritme sirkadian dan mendorong komunitas ilmiah untuk mengkaji ulang apa yang dianggap sebagai ritme biologis sejati.

