Peta Baru Zona Megathrust 2024: Risiko Gempa Besar di Indonesia Meningkat
Sains
Iklim dan Lingkungan
19 Mar 2026
183 dibaca
1 menit

Rangkuman 15 Detik
Zona megathrust di Indonesia bertambah dan memiliki potensi bahaya yang lebih tinggi.
Pemantauan jangka panjang dan teknologi canggih seperti GNSS penting untuk mitigasi bencana gempa.
Fenomena pergeseran lambat dapat menjadi indikator awal untuk terjadinya gempa besar di masa depan.
Peta sumber dan bahaya gempa terbaru tahun 2024 menunjukkan penambahan zona megathrust aktif menjadi 14 titik di Indonesia. Peta ini memperlihatkan potensi bahaya gempa yang lebih tinggi dibandingkan peta tahun 2017 dengan kontur bahaya yang lebih rapat di beberapa wilayah.
Profesor Kosuke Heki dari Hokkaido University menyoroti kesamaan geologi Indonesia dengan zona megathrust aktif di Jepang seperti Nankai Trough. Ia juga menekankan pentingnya pemantauan deformasi kerak bumi menggunakan GNSS dan pengukuran dasar laut untuk membaca akumulasi tegangan dan fenomena slow slip event sebagai indikator awal gempa.
BMKG menyatakan ada dua zona megathrust dalam kondisi seismic gap, yakni Selat Sunda dan Mentawai-Siberut yang tidak melepaskan energi besar selama ratusan tahun. Meski istilah 'menunggu waktu' tidak berarti gempa akan segera terjadi, akumulasi energi yang tinggi membutuhkan perhatian serius dalam mitigasi dan kesiapsiagaan bencana.
Analisis Ahli
Profesor Kosuke Heki
Gempa besar sulit diprediksi secara tepat, tetapi pemantauan jangka panjang deformasi kerak bumi dan fenomena slow slip event dapat menjadi indikator penting dalam memperkirakan potensi gempa megathrust selanjutnya.
