Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

Indonesia Tambah Zona Megathrust, Risiko Gempa Besar Meningkat

Sains
Iklim dan Lingkungan
CNBCIndonesia CNBCIndonesia
27 Jan 2026
38 dibaca
2 menit
Indonesia Tambah Zona Megathrust, Risiko Gempa Besar Meningkat

Rangkuman 15 Detik

Peta bahaya gempa terbaru menunjukkan peningkatan potensi risiko di Indonesia.
Pemantauan jangka panjang menggunakan teknologi seperti GNSS penting untuk mitigasi bencana.
Fenomena pergeseran lambat dapat menjadi indikator awal terjadinya gempa besar di zona Megathrust.
Pembaruan terbaru Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia tahun 2024 menunjukkan bahwa zona Megathrust di Indonesia meningkat menjadi 14 titik, dengan potensi gempa yang lebih besar dibandingkan peta sebelumnya tahun 2017. Zona-zona ini tersebar dari Aceh hingga Filipina Selatan dan memiliki potensi gempa dengan magnitudo hingga 9,2. Profesor Kosuke Heki dari Hokkaido University menyoroti kesamaan geologi Indonesia dengan zona Nankai Trough di Jepang yang aktif secara seismik. Dia menjelaskan bahwa meskipun waktu gempa besar sulit diprediksi, pemantauan deformasi kerak bumi dengan teknologi GNSS dan pengukuran dasar laut menjadi kunci penting dalam mitigasi bencana gempa. Fenomena slow slip event, yaitu pergeseran lambat pada zona subduksi, dianggap sebagai salah satu indikator awal gempa besar yang terjadi berulang kali di Jepang. Heki menyebut Indonesia harus mengembangkan sistem pemantauan serupa guna membaca akumulasi tegangan tektonik secara lebih akurat. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan bahwa istilah 'menunggu waktu' terkait gempa besar bukan prediksi waktu pastinya, melainkan menunjukkan akumulasi energi yang tersimpan karena lama tidak terjadi gempa besar di wilayah tertentu seperti Selat Sunda dan Mentawai-Siberut. Dengan potensi gempa yang besar di berbagai zona Megathrust dan teknologi pemantauan yang lebih canggih, Indonesia harus meningkatkan kesiapsiagaan dan sistem mitigasi bencana untuk mengurangi risiko dampak gempa besar di masa depan.

Analisis Ahli

Profesor Kosuke Heki
Pentingnya pemantauan deformasi kerak bumi jangka panjang menggunakan GNSS dan teknologi dasar laut untuk membaca akumulasi tegangan dan memahami fenomena slow slip event sebagai indikator awal gempa besar.