Katalis Berbasis Cahaya Matahari untuk Mengurai Bahan Kimia 'Forever' PFAS di Lingkungan
Courtesy of InterestingEngineering

Katalis Berbasis Cahaya Matahari untuk Mengurai Bahan Kimia 'Forever' PFAS di Lingkungan

Mengembangkan katalis berbasis karbon yang bertenaga cahaya matahari untuk menguraikan PFAS menjadi produk yang kurang berbahaya, sekaligus menciptakan potensi sensor portabel untuk deteksi PFAS, sehingga memberikan solusi efisien dan ramah lingkungan dalam mengatasi pencemaran PFAS.

27 Feb 2026, 04.40 WIB
182 dibaca
Share
Ikhtisar 15 Detik
  • Katalis berbasis karbon dapat secara efektif memecah PFAS menjadi produk yang kurang berbahaya.
  • Teknologi ini menggunakan sinar matahari, yang membuatnya lebih ramah lingkungan dan hemat energi.
  • Tim peneliti berencana untuk mengembangkan sensor portabel untuk mendeteksi PFAS di lingkungan.
Bath, Inggris - PFAS adalah bahan kimia yang sangat stabil dan digunakan di banyak produk seperti pakaian tahan air dan peralatan masak anti lengket. Namun, bahan ini sulit diuraikan secara alami sehingga menumpuk di lingkungan dan tubuh manusia, menimbulkan risiko kesehatan seperti kanker.
Sebuah tim internasional yang dipimpin oleh University of Bath mengembangkan katalis berbasis karbon yang menggunakan cahaya matahari untuk mengurai PFAS menjadi karbondioksida dan fluoride, yang lebih aman dan mudah terurai di lingkungan.
Katalis ini menggabungkan karbon nitride dengan polimer PIM-1 yang berfungsi menjebak molekul PFAS dekat permukaan katalis, sehingga proses penguraian lebih efisien pada pH netral, kondisi yang biasanya ditemukan di air alami.
Metode ini lebih ramah lingkungan dan hemat energi karena menggunakan cahaya matahari, bukan suhu tinggi atau bahan kimia keras. Selain itu, teknologi ini juga berpotensi dikembangkan menjadi sensor portabel yang dapat mendeteksi kadar PFAS melalui pengukuran fluoride.
Para peneliti sedang mencari mitra industri untuk mengembangkan teknologi ini agar dapat digunakan secara nyata. Jika berhasil, teknologi ini bisa menjadi solusi penting untuk mengatasi pencemaran PFAS sekaligus memudahkan pemantauan kualitas lingkungan.
Referensi:
[1] https://www.interestingengineering.com/innovation/sunlight-pfas-catalyst-bath

Analisis Ahli

Dr Fernanda C. O. L. Martins
"Penggunaan karbon nitride dan PIM-1 pada pH netral merupakan inovasi yang signifikan karena menyesuaikan kondisi alami air yang ada di lingkungan."
Professor Frank Marken
"Teknologi ini tidak hanya sebagai alat pembersih, tapi juga berpotensi sebagai sensor portabel yang dapat dioperasikan di lapangan untuk pemantauan langsung kontaminasi PFAS."

Analisis Kami

"Penemuan katalis yang menggunakan sinar matahari untuk mengurai PFAS adalah lompatan besar dalam bidang pengelolaan polutan persisten yang selama ini sulit diatasi. Jika terus dikembangkan, teknologi ini bisa menjadi jawaban praktis untuk masalah lingkungan yang kompleks tanpa menimbulkan polusi tambahan."

Prediksi Kami

Jika teknologi ini berhasil diskalakan dan disempurnakan, solusi ini bisa merevolusi cara kita mengatasi pencemaran PFAS secara global, sekaligus menyediakan alat deteksi yang murah dan mudah digunakan di luar laboratorium.

Pertanyaan Terkait

Q
Apa itu PFAS dan di mana biasanya digunakan?
A
PFAS adalah substansi kimia yang stabil secara kimia dan digunakan dalam produk seperti pakaian tahan air dan perawatan kosmetik.
Q
Bagaimana cara kerja katalis yang dikembangkan oleh tim peneliti?
A
Katalis yang dikembangkan mengombinasikan karbon nitride dengan polimer PIM-1 untuk menjebak molekul PFAS dan memecahnya saat terkena cahaya.
Q
Apa keuntungan dari menggunakan sinar matahari dalam proses degradasi PFAS?
A
Keuntungan dari menggunakan sinar matahari adalah proses ini lebih hemat energi dibandingkan dengan metode yang memerlukan suhu tinggi atau bahan kimia keras.
Q
Apa potensi penggunaan teknologi ini di masa depan?
A
Teknologi ini berpotensi digunakan untuk membuat sensor portabel yang dapat mendeteksi keberadaan PFAS di lingkungan.
Q
Siapa yang memimpin proyek penelitian ini?
A
Proyek penelitian ini dipimpin oleh Profesor Frank Marken dari University of Bath.