Krisis Chip Memori Dorong Harga Naik dan Ekspansi Produsen China Besar-besaran
Bisnis
Ekonomi Makro
04 Feb 2026
292 dibaca
2 menit

Rangkuman 15 Detik
Krisis chip memori global berdampak signifikan pada harga produk elektronik konsumen.
Pabrikan chip memori di China seperti CXMT dan YMTC berencana melakukan ekspansi kapasitas untuk memenuhi permintaan.
Harga chip memori telah mengalami lonjakan yang drastis, menjadikannya barang mewah di pasar.
Krisis chip memori global menyebabkan harga produk elektronik seperti laptop dan HP melonjak tinggi. Banyak produsen terpaksa menaikkan harga akibat biaya chip yang terus naik, terutama pada segmen produk dengan harga rendah yang margin keuntungannya tipis.
Di pasar Indonesia, harga chip DDR4 dan DDR5 mengalami kenaikan luar biasa hingga empat kali lipat dalam waktu sebulan. Fenomena serupa dialami di pusat elektronik Shenzhen, China, di mana chip memori kini dianggap seperti barang mewah dengan harga naik lima kali lipat sejak akhir 2025.
Menanggapi lonjakan harga dan kelangkaan chip memori, dua produsen besar China, CXMT dan YMTC, berencana melakukan ekspansi kapasitas produksi secara besar-besaran. CXMT fokus pada DRAM dan akan memperbesar pabrik di Shanghai dengan kapasitas 2-3 kali lipat dari sebelumnya.
Sementara itu, YMTC yang berfokus pada produksi NAND juga akan membangun fasilitas ketiga di Wuhan dengan target produksi NAND dan DRAM secara seimbang, serta mengembangkan chip HBM untuk keperluan data center AI yang tengah berkembang.
Langkah ekspansi ini menunjukkan upaya China yang cepat beradaptasi dengan krisis chip dunia, sekaligus memperkuat kemandirian teknologi chip mereka di tengah tekanan blokir dari Amerika Serikat. Namun, teknologi produksi mereka masih perlu peningkatan agar bisa bersaing dengan pemain utama di Korea dan AS.
Analisis Ahli
Dr. Rudi Hartono (Analis Industri Semikonduktor Indonesia)
Ekspansi kapasitas pabrik chip oleh CXMT dan YMTC adalah langkah strategis China untuk mengatasi kekurangan suplai global, namun tantangan utama mereka tetap pada peningkatan teknologi pemrosesan yang masih tertinggal satu dekade dibanding Korea dan AS.

