Apakah Usia Pensiun Wajib di Akademia Membuka Peluang untuk Peneliti Muda?
Courtesy of NatureMagazine

Apakah Usia Pensiun Wajib di Akademia Membuka Peluang untuk Peneliti Muda?

Menganalisis apakah kebijakan pensiun wajib di akademia benar-benar membuka lebih banyak peluang pekerjaan bagi peneliti muda dan bagaimana kebijakan tersebut berdampak pada karier akademisi senior dan dinamika perekrutan tenaga akademik baru.

27 Jan 2026, 07.00 WIB
223 dibaca
Share
Ikhtisar 15 Detik
  • Persaingan untuk posisi akademik semakin ketat di kalangan peneliti muda.
  • Kebijakan pensiun wajib tidak selalu efektif dalam menciptakan lebih banyak lowongan kerja.
  • Ada kebutuhan untuk mendefinisikan ulang apa yang dimaksud dengan pensiun dalam konteks akademik.
Cambridge, Inggris - Persaingan mendapatkan pekerjaan tetap dan pendanaan di dunia akademik semakin sulit karena jumlah gelar doktor yang meningkat tidak sebanding dengan posisi dosen tetap yang tersedia. Di Amerika Serikat, posisi pekerjaan kontingen meningkat dari 47% pada 1987 menjadi 68% pada 2021, sehingga banyak peneliti muda merasa tidak pasti akan pekerjaannya.
Beberapa universitas seperti Oxford dan Cambridge menerapkan usia pensiun wajib untuk akademisi, dengan tujuan membuka lebih banyak posisi bagi generasi muda. Di negara lain seperti Spanyol dan Prancis, ada batas usia pensiun yang juga mendorong perputaran tenaga akademik.
Namun, penelitian dan data menunjukkan bahwa kebijakan usia pensiun wajib ini hanya memberikan sedikit peningkatan pada jumlah lowongan pekerjaan di universitas. Di Cambridge, misalnya, kebijakan ini hanya meningkatkan lowongan sebesar 2,75%, jauh lebih kecil dari yang diharapkan.
Kebijakan ini juga menimbulkan ketidakpuasan di kalangan akademisi senior yang merasa tidak dihargai dan mengalami kesulitan dalam memperoleh pendanaan penelitian karena kontrak yang terbatas mendekati usia pensiun. Bahkan ada beberapa tuntutan hukum terhadap kebijakan tersebut di Cambridge.
Para ahli sepakat bahwa usia pensiun wajib bukanlah solusi sempurna untuk menciptakan lebih banyak pekerjaan bagi peneliti muda. Diperlukan pendekatan yang lebih fleksibel dan holistik yang mempertimbangkan kontribusi akademisi senior serta menciptakan jalur karier dan peluang pendanaan yang berkelanjutan.
Referensi:
[1] https://nature.com/articles/d41586-026-00055-4

Analisis Ahli

Thomas Roulet
"Mendukung redefinisi pensiun akademik sebagai peluang bagi generasi baru, bukan sebagai akhir karier sepenuhnya."
David Spergel
"Menekankan pentingnya fleksibilitas dalam pensiun akademik, agar keputusan didasarkan pada tanggung jawab terhadap kebaikan riset."
Oliver Linton
"Menunjukkan bahwa pensiun wajib hanya sedikit meningkatkan lowongan pekerjaan dan menimbulkan rasa tidak dihargai bagi akademisi senior."
Michelle Silver
"Memperingatkan bahwa pensiun tidak selalu membuka posisi baru karena beberapa 'line' riset berhenti setelah pensiunnya pemimpinnya."

Analisis Kami

"Kebijakan pensiun wajib memang dimaksudkan untuk membuka peluang bagi peneliti muda, tetapi realitanya hanya memberikan dampak kecil terhadap jumlah lowongan pekerjaan. Lebih efektif jika universitas juga fokus pada pembentukan jalur karier yang jelas dan pendanaan yang memadai daripada hanya bergantung pada pergantian usia pensiun."

Prediksi Kami

Debat mengenai usia pensiun wajib akademisi akan terus berlanjut dengan kemungkinan pengaturan yang lebih fleksibel untuk menyeimbangkan peluang bagi akademisi muda dan penghargaan terhadap kontribusi akademisi senior.