Belajar dari Jepang: Mitigasi Risiko Gempa Megathrust di Indonesia dengan GNSS
Sains
Iklim dan Lingkungan
14 Des 2025
170 dibaca
2 menit

Rangkuman 15 Detik
Pentingnya pemantauan jangka panjang terhadap deformasi kerak bumi untuk mitigasi risiko gempa.
Penggunaan teknologi GNSS dan geodesi dasar laut dapat membantu mendeteksi potensi gempa di Indonesia.
Indonesia memiliki banyak zona subduksi aktif yang berisiko terhadap gempa megathrust.
Gempa megathrust adalah jenis gempa bumi sangat besar yang terjadi di zona subduksi, seperti di zona Nankai Trough di Jepang dan sejumlah lokasi di Indonesia. Risiko gempa besar ini menjadi perhatian komunitas ilmiah dunia karena dapat menyebabkan kerusakan dan korban jiwa yang sangat besar. Oleh karena itu, memahami mekanisme gempa dan memantau tanda-tanda awal sangat penting untuk mitigasi bencana.
Prof. Kosuke Heki dari Hokkaido University menyampaikan bahwa gempa besar di Nankai Trough tidak hanya menjadi ancaman lokal tapi juga pelajaran penting bagi negara seperti Indonesia yang juga memiliki zona subduksi aktif. Siklus gempa bumi kuat biasanya terjadi dalam interval 50-100 tahun, meskipun waktu tepatnya sulit diprediksi.
Teknologi seperti Global Navigation Satellite System (GNSS) dan pengukuran di dasar laut dapat digunakan untuk memantau deformasi kerak bumi jangka panjang dan menilai akumulasi tegangan di zona megathrust. Pemantauan ini membantu mengidentifikasi kopling antar-seismik yang menandakan potensi gempa besar di masa depan.
Slow slip event atau pergeseran lambat adalah fenomena geologi gerakan kecil yang dapat menjadi petunjuk awal sebelum gempa besar, dan sudah diamati berulang kali di Jepang. Indonesia yang memiliki zona subduksi seperti Mentawai, Jawa, Bali, Lombok, dan Maluku bisa mengadaptasi sistem pengamatan ini untuk mendeteksi tanda-tanda serupa.
Baru-baru ini, para ahli memetakan 14 zona megathrust di Indonesia, meningkat dari 13 zona pada peta tahun 2017. Di Pulau Jawa terdapat 3 megathrust yang memiliki potensi gempa besar dengan magnitudo hingga 9,1. Pengembangan pemantauan GNSS dan geodesi dasar laut di Indonesia menjadi langkah strategis untuk mitigasi bencana gempa ke depan.
Analisis Ahli
Prof. Kosuke Heki
Gempa besar terjadi dari kopling antar-seismik di sumbu palung, dengan slow slip event sebagai indikator penting sebelum terjadinya gempa besar berikutnya.

