Jalur Listrik Ultra-Tinggi Tibet ke Guangdong: Energi Hijau untuk Industri Maju
Courtesy of SCMP

Jalur Listrik Ultra-Tinggi Tibet ke Guangdong: Energi Hijau untuk Industri Maju

Menyalurkan listrik ramah lingkungan dalam jumlah besar dari Tibet ke pusat industri di selatan China guna mengurangi emisi karbon dan memenuhi kebutuhan listrik yang meningkat akibat perkembangan industri AI.

22 Jan 2026, 18.29 WIB
152 dibaca
Share
Ikhtisar 15 Detik
  • Proyek transmisi ini merupakan langkah signifikan dalam memanfaatkan energi terbarukan di Tibet.
  • Guangdong akan mendapat manfaat besar dari pasokan energi hijau untuk memenuhi permintaan industri.
  • Inisiatif ini sejalan dengan rencana pengurangan karbon yang dijalankan oleh pemerintah Cina.
Tibet dan Guangzhou, China - China telah menginisiasi pembangunan jalur transmisi listrik bertekanan ultra-tinggi yang menghubungkan wilayah Tibet yang kaya energi terbarukan dengan pusat-pusat industri besar di Guangdong. Proyek ini bertujuan untuk menyuplai listrik dalam jumlah sangat besar yang dihasilkan dari sumber energi seperti tenaga air, angin, dan surya.
Jalur transmisi listrik ini akan membentang jauh, melewati medan sulit seperti dataran tinggi dan zona permafrost, sehingga teknologi dan teknik konstruksi canggih sangat diperlukan untuk menyelesaikan proyek. Pembangunan ini dimulai pada bulan September dengan target penyelesaian pada tahun 2029.
Saat jalur ini beroperasi, diperkirakan dapat menyalurkan lebih dari 43 miliar kilowatt-jam listrik setiap tahunnya. Hal itu setara dengan setengah dari listrik yang dihasilkan oleh Bendungan Tiga Ngarai, yang merupakan salah satu pembangkit listrik terbesar di dunia.
Dengan suplai energi bersih yang besar ini, Guangdong yang merupakan wilayah industri utama di selatan China dapat mengurangi konsumsi batu bara hingga 12 juta ton per tahun. Ini juga sangat mendukung rencana pengurangan emisi karbon nasional dan memenuhi kebutuhan listrik yang meningkat terutama dari industri teknologi seperti kecerdasan buatan.
Proyek ini merupakan bagian penting dari strategi energi nasional China yang ingin memanfaatkan sumber daya alam yang melimpah secara berkelanjutan dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, sekaligus menjadikan energi terbarukan sebagai motor baru pertumbuhan ekonomi.
Referensi:
[1] https://www.scmp.com/economy/china-economy/article/3340872/chinas-massive-project-funnel-clean-energy-tibet-enters-new-phase?module=top_story&pgtype=section

Analisis Ahli

Dr. Li Wen, Pakar Energi Terbarukan
"Proyek ini menunjukkan kemajuan luar biasa dalam teknologi transmisi listrik dan menegaskan komitmen China dalam mengurangi emisi karbon besar-besaran."

Analisis Kami

"Ini adalah langkah strategis yang sangat ambisius yang tidak hanya mengatasi masalah pasokan energi di pusat industri dengan cara ramah lingkungan, tetapi juga memanfaatkan potensi energi alam yang melimpah di daerah terpencil. Namun, tantangan teknis dan lingkungan selama konstruksi di daerah permafrost dan dataran tinggi harus dikelola dengan sangat hati-hati untuk menghindari kerusakan ekosistem yang sensitif."

Prediksi Kami

Setelah selesai, proyek ini akan memperkuat posisi China sebagai pemimpin global dalam energi terbarukan sekaligus mendorong percepatan peralihan dari bahan bakar fosil ke energi hijau dalam skala besar.

Pertanyaan Terkait

Q
Apa tujuan dari proyek garis transmisi ultra-high-voltage dari Tibet ke Guangdong?
A
Tujuan proyek ini adalah untuk mengalirkan energi hijau dari Tibet ke pusat industri di Guangdong.
Q
Berapa banyak energi yang akan disuplai oleh proyek ini setiap tahun?
A
Proyek ini akan menyuplai lebih dari 43 miliar kilowatt-jam energi setiap tahun.
Q
Mengapa Guangdong membutuhkan pasokan energi dari Tibet?
A
Guangdong, sebagai pusat ekonomi besar, memiliki konsumsi listrik yang tinggi dan membutuhkan pasokan energi lebih besar.
Q
Kapan konstruksi proyek ini diperkirakan selesai?
A
Konstruksi proyek ini diperkirakan akan selesai pada tahun 2029.
Q
Apa yang diharapkan dari proyek ini dalam konteks pengurangan karbon?
A
Proyek ini diharapkan dapat membantu mengurangi konsumsi batubara di Guangdong sekitar 12 juta ton.