China Mulai Bangun Bendungan Terbesar Dunia di Sungai Yarlung Tsangpo
Sains
Iklim dan Lingkungan
23 Jul 2025
54 dibaca
2 menit

Rangkuman 15 Detik
Bendungan Yarlung Tsangpo adalah proyek ambisius yang berpotensi menghasilkan energi bersih yang besar.
Pembangunan bendungan ini dapat menimbulkan konflik air dan dampak ekologis yang serius.
Proyek ini berusaha untuk meningkatkan infrastruktur dan ekonomi di wilayah Tibet, tetapi juga membawa risiko terhadap stabilitas regional.
China telah memulai pembangunan bendungan tenaga air terbesar di dunia di sungai Yarlung Tsangpo, yang terletak di wilayah Tibet. Bendungan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi besar dalam menghasilkan energi bersih yang cukup untuk memasok kebutuhan listrik dalam jumlah besar.
Proyek yang disebut sebagai 'proyek abad ini' oleh Perdana Menteri Li Qiang ini akan menghasilkan energi tiga kali lebih banyak dibanding bendungan terbesar saat ini di China, Bendungan Tiga Jurang. Kapasitas pembangkit listrik tahunan akan mencapai 300 miliar kilowatt-jam, yang lebih banyak dari seluruh energi listrik yang digunakan oleh Inggris setiap tahunnya.
Lokasi bendungan berada di kawasan Medog, di sebuah daerah dengan turunan sungai sangat curam, sehingga sangat potensial untuk pembangkitan tenaga hidro. Proyek ini tidak hanya soal energi, tetapi juga diharapkan dapat meningkatkan lapangan kerja, infrastruktur, dan memperbaiki ekonomi setempat.
Meski demikian, proyek ini menimbulkan kekhawatiran terkait masalah lingkungan dan potensi konflik air dengan negara-negara yang berbatasan dan menggunakan sungai tersebut. Dampak ekologis perlu dikaji agar pembangunan besar-besaran tidak merusak keseimbangan alam di kawasan tersebut.
Proyek bendungan ini diperkirakan memerlukan biaya sekitar 1,2 triliun yuan atau setara 167 miliar dolar AS, menjadikannya salah satu investasi infrastruktur terbesar dalam sejarah yang pernah dilakukan oleh China.
Analisis Ahli
Prof. Wang Li (Ahli Hidrologi)
Proyek ini sangat ambisius dan bisa memberikan energi terbarukan besar bagi China, tetapi harus ada rencana manajemen risiko air yang ketat untuk mencegah konflik lintas negara dan kerusakan ekologi.Dr. Anjali Sharma (Pakar Ekologi Sungai Brahmaputra)
Dampak ekologi dan sosial dari bendungan ini belum dievaluasi secara penuh, dan proyek ini bisa merusak keberlanjutan sungai serta kehidupan masyarakat di hilir seperti India dan Bangladesh.

