
Courtesy of Forbes
Kontroversi Panduan Diet 2025-2030: Daging Merah dan Lemak Sapi yang Menjadi Sorotan
Menyampaikan kontroversi seputar panduan diet 2025-2030 yang menonjolkan daging merah dan lemak sapi, serta mengkritisi kurangnya transparansi dan kemungkinan pengaruh industri dalam penyusunan pedoman tersebut agar pembaca lebih waspada terhadap sumber protein dan lemak yang dianjurkan.
19 Jan 2026, 21.28 WIB
82 dibaca
Share
Ikhtisar 15 Detik
- Daging merah dan lemak sapi mendapat penekanan yang tidak biasa dalam Pedoman Diet baru.
- Ada kekhawatiran tentang transparansi dan pengaruh industri daging dalam proses penyusunan pedoman.
- Penting untuk mempertimbangkan sumber protein alternatif yang lebih sehat.
Amerika Serikat - Panduan diet Amerika Serikat untuk 2025-2030 baru-baru ini menimbulkan banyak perdebatan. Dalam dokumen ini, daging merah dan lemak sapi mendapat tempat penting dalam piramida makanan yang didesain ulang dan terbalik. Ini berbeda dengan panduan sebelumnya yang biasanya lebih membatasi konsumsi daging merah karena alasan kesehatan.
Dokumen tersebut menekankan pentingnya mengonsumsi protein dari berbagai sumber, termasuk daging merah, telur, dan protein nabati seperti kacang-kacangan. Panduan juga menyarankan penggunaan lemak sehat seperti minyak zaitun dan secara spesifik memasukkan lemak sapi sebagai salah satu pilihan, meskipun lemak sapi mengandung banyak lemak jenuh.
Para ahli nutrisi mengingatkan bahwa daging merah memiliki risiko kesehatan terkait seperti peningkatan kemungkinan penyakit jantung dan kanker. Kandungan lemak jenuh dan senyawa karsinogen yang terbentuk saat memasak dengan suhu tinggi menjadi penyebab utama kekhawatiran ini. Oleh karena itu, lembaga kesehatan seperti American Heart Association dan World Health Organization menganjurkan pembatasan konsumsi daging merah dan penggantian dengan protein lain yang lebih sehat.
Salah satu kritik besar terhadap pedoman baru ini adalah kurangnya transparansi dalam proses penyusunannya. Banyak rekomendasi dari komite ahli yang tidak diterima dalam versi akhir tanpa penjelasan yang jelas. Ada juga dugaan bahwa sejumlah ahli yang terlibat dalam pembuatan pedoman tersebut memiliki hubungan dengan industri daging dan susu, yang bisa memengaruhi keputusan akhir.
Kontroversi ini menimbulkan ketidakpastian publik terhadap keandalan panduan nutrisi resmi dan memicu pertanyaan tentang seberapa besar pengaruh industri makanan dalam menentukan kebijakan kesehatan masyarakat. Ke depan, diharapkan ada proses yang lebih terbuka dan berbasis bukti agar pedoman diet dapat dipercaya dan sesuai dengan kebutuhan kesehatan masyarakat.
Referensi:
[1] https://www.forbes.com/sites/brucelee/2026/01/19/red-meat-beef-tallow-in-new-dietary-guidelines-what-you-need-to-know/
[1] https://www.forbes.com/sites/brucelee/2026/01/19/red-meat-beef-tallow-in-new-dietary-guidelines-what-you-need-to-know/
Analisis Ahli
Neena Prasad
"Proses penyusunan DGA tahun ini kurang transparan dan banyak rekomendasi dari komite ahli tidak diikuti tanpa penjelasan memadai, mencurigakan adanya pengaruh dari industri daging dan susu."
Analisis Kami
"Pedoman diet ini tampaknya lebih mengakomodasi kepentingan industri daripada kesehatan masyarakat, sehingga mengecewakan bagi mereka yang mengharapkan panduan berbasis bukti yang transparan dan objektif. Ketidaksesuaian antara rekomendasi ahli dan hasil akhir juga menimbulkan keraguan serius terhadap kredibilitas proses penyusunannya."
Prediksi Kami
Jika ketidakjelasan dan potensi konflik kepentingan tidak diatasi, kepercayaan publik terhadap pedoman makan resmi akan semakin menurun dan mungkin muncul perubahan kebijakan atau tuntutan transparansi yang lebih besar di masa depan.




