
Courtesy of Forbes
Bottleneck Energi dan Logam Mengubah Cara AI Dimajukan oleh Perusahaan Besar
Menjelaskan bagaimana bottleneck baru dalam pengembangan AI kini berada pada aspek pasokan listrik dan material logam, serta dampaknya terhadap investasi, politik, dan strategi perusahaan hyperscaler dalam mengamankan kebutuhan energi mereka dengan memiliki aset pembangkit listrik sendiri.
19 Jan 2026, 14.30 WIB
111 dibaca
Share
Ikhtisar 15 Detik
- Permintaan untuk energi dari data center meningkat pesat, memicu investasi besar dalam infrastruktur energi.
- Perusahaan teknologi besar kini beralih dari membeli energi ke memiliki sumber energi mereka sendiri untuk menghindari risiko pasokan.
- Gas dan logistik energi menjadi faktor kunci dalam pembangunan kapasitas data center di masa depan.
Amerika Serikat - Kebutuhan listrik untuk mendukung perkembangan kecerdasan buatan sekarang sudah melampaui batas yang bisa dipenuhi oleh jaringan listrik saat ini. Perusahaan-perusahaan teknologi besar seperti Alphabet dan Meta mulai mengambil langkah drastis dengan membeli dan mengembangkan pembangkit listrik mereka sendiri, termasuk energi bersih dan nuklir, agar tidak tergantung pada kontrak pembelian listrik biasa yang berisiko dan semakin mahal.
Chevron dan ExxonMobil juga ikut andil dengan membangun dan merencanakan proyek pembangkit listrik gas dalam skala besar khusus untuk melayani data center AI. Hal ini mengubah gas dari sekadar bahan bakar menjadi produk layanan dengan fokus pada keandalan jadwal pengiriman listrik, karena keterbatasan produksi turbin gas menjadi hambatan utama dalam proses ini.
Ketatnya kapasitas pasar dan harga listrik di wilayah PJM di Amerika Serikat menunjukkan besarnya permintaan data center yang bahkan belum selesai dibangun sudah menimbulkan biaya tinggi bagi pasar kapasitas listrik. Pemerintah AS pun mengambil langkah dengan mendorong pelelangan kapasitas khusus data center agar mendukung pembangunan pembangkit listrik baru dan memberi jaminan pasokan jangka panjang.
Di sisi lain, permintaan untuk tembaga dan logam langka guna membangun infrastruktur energi semakin melonjak, dengan risiko kelangkaan yang diperburuk oleh proses tambang dan produksi yang memakan waktu bertahun-tahun. China mendominasi produksi langka seperti rare earth, sehingga rantai pasokannya menjadi sangat rentan terhadap risiko geopolitik dan regulasi ekspor ketat.
Tekanan politik mulai muncul di Amerika Serikat dengan seruan moratorium pertumbuhan data center dari pihak seperti Senator Bernie Sanders dan kekhawatiran negara bagian. Contoh dari Irlandia menunjukkan pilihan regulasi baru yang mengharuskan data center memiliki pembangkit listrik on-site untuk mengurangi beban pada jaringan utama, sebuah model yang mungkin akan diadopsi secara luas.
Referensi:
[1] https://www.forbes.com/sites/guneyyildiz/2026/01/19/forget-nvidia-the-real-ai-boom-is-in-natural-gas-and-copper/
[1] https://www.forbes.com/sites/guneyyildiz/2026/01/19/forget-nvidia-the-real-ai-boom-is-in-natural-gas-and-copper/
Analisis Ahli
Michael Liebreich (Pendiri Bloomberg New Energy Finance)
"Keterbatasan dalam infrastruktur energi akan menjadi faktor pembatas utama bagi ekspansi AI dan teknologi tinggi, dan perusahaan harus mulai mengintegrasikan strategi energi langsung dalam model bisnis mereka untuk memastikan kelanjutan operasional."
Jigar Shah (CEO Prime Movers Lab)
"Pasar energi kini melihat perubahan paradigma dimana teknologi dan energi saling terkait erat. Perusahaan teknologi yang menguasai produksi energi akan mendapat keunggulan kompetitif yang besar."
Analisis Kami
"Transisi dari membeli listrik ke memiliki pembangkit sendiri menunjukkan perusahaan teknologi besar semakin sadar bahwa ketergantungan pada pasar energi yang fluktuatif dan jaringan yang tidak memadai akan menjadi hambatan utama bagi ekspansi AI mereka. Namun, tantangan nyata adalah siklus produksi bahan mentah dan komponen yang panjang serta kendala politik yang bisa menghentikan laju pembangunan energi baru, sehingga investasi ini berisiko tinggi jika proyeksi permintaan AI meleset."
Prediksi Kami
Dalam beberapa tahun ke depan, kepemilikan aset pembangkit listrik oleh perusahaan hyperscaler akan meningkat tajam, memicu persaingan intens dan kebutuhan investasi besar dalam infrastruktur energi, sementara tekanan politik dan regulasi akan makin membatasi ekspansi yang tidak terkendali pada data center untuk menghindari lonjakan harga listrik yang merugikan konsumen umum.

