TLDR
Pemanasan global berdampak langsung pada kualitas pangan dan kesehatan manusia. Peningkatan suhu dan kelembapan dapat mempercepat pertumbuhan bakteri patogen dalam makanan. Edukasi masyarakat tentang hubungan antara perubahan iklim dan penyakit dari makanan sangat penting untuk mencegah wabah. Pemanasan global tidak hanya meningkatkan suhu Bumi tetapi juga menimbulkan dampak berbahaya pada makanan yang kita konsumsi setiap hari. Suhu yang lebih tinggi membuat bakteri seperti Bacillus cereus lebih mudah tumbuh dalam makanan yang sudah dimasak dan disimpan, sehingga berpotensi menyebabkan penyakit.Contoh nyata dampak ini terjadi di desa Haroli, India, di mana seorang wanita bernama Sumitra Sutar mengalami muntah-muntah akibat keracunan bakteri dalam nasi yang sudah dikonsumsi selama puluhan tahun. Perubahan iklim membuat bakteri tersebut semakin mudah berkembang biak dan menghasilkan racun berbahaya.Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa sekitar 600 juta orang jatuh sakit setiap tahun karena penyakit yang ditularkan lewat makanan, dengan angka kematian mencapai 420.000. Anak-anak di bawah usia 5 tahun menjadi kelompok yang paling rentan, kehilangan sekitar 125.000 nyawa setiap tahun akibat penyakit yang sebenarnya bisa dicegah.Faktor seperti banjir dan suhu udara yang lebih panas memperparah kondisi ini dengan meningkatkan kontaminasi makanan dan mempercepat pembusukan. Meski memasak di suhu 70 derajat Celsius selama dua menit dapat membunuh patogen, masyarakat masih banyak yang belum menyadari kaitan perubahan iklim dengan penyakit akibat makanan.Edukasi yang lebih baik sangat diperlukan agar masyarakat memahami bahaya perubahan iklim terhadap kesehatan pangan. Tanpa kesadaran ini, risiko penyakit bawaan makanan akibat suhu ekstrem dan kontaminasi akan terus meningkat, terutama di daerah yang sudah merasakan dampaknya secara langsung.