
Courtesy of Forbes
Hakim California Membatalkan Kasus Karena Bukti Deepfake AI, Sistem Hukum Terancam
Mengungkap masalah serius terkait penggunaan bukti deepfake berbasis AI dalam persidangan dan perlunya sistem hukum yang siap menghadapi tantangan verifikasi bukti digital yang semakin kompleks dan berpotensi menyesatkan.
09 Des 2025, 06.23 WIB
261 dibaca
Share
Ikhtisar 15 Detik
- Penggunaan deepfake dalam pengadilan menunjukkan tantangan baru bagi sistem hukum.
- Pengacara dan hakim harus lebih waspada terhadap bukti yang dihasilkan oleh AI.
- Proses pembuatan peraturan hukum terkait bukti sintetis perlu dipercepat untuk menghadapi kemajuan teknologi.
Alameda, Amerika Serikat - Sebuah kasus sengketa perumahan di California dibatalkan setelah hakim menemukan bahwa salah satu bukti video saksi ternyata adalah deepfake yang dibuat dengan AI. Video tersebut menunjukkan tanda-tanda tidak alami seperti suara datar dan ekspresi wajah yang berulang-ulang. Hal ini mengungkap betapa rentannya sistem hukum terhadap bukti digital palsu.
Para hakim menyatakan kekhawatiran mereka karena semakin banyak bukti berbasis AI yang dapat menipu pengadilan. Jika tidak ada perangkat atau prosedur verifikasi yang efektif, keputusan pengadilan bisa salah dan menyebabkan dampak serius pada kehidupan orang yang terlibat.
Meski ada upaya pembaruan aturan hukum di tingkat federal yang mengusulkan perlakuan khusus untuk bukti machine-generated, prosesnya berjalan lambat dan tidak sejalan dengan perkembangan teknologi yang cepat. Beberapa negara bagian seperti Louisiana mulai membuat regulasi untuk mendorong pengacara memeriksa keaslian bukti secara aktif.
Deteksi bukti deepfake dan sejenisnya saat ini memiliki keterbatasan besar karena alat yang ada sering memberikan hasil yang tidak akurat. Dengan perkembangan teknologi yang terus maju, pembuktian keaslian akan semakin sulit dilakukan hanya dengan analisa metadata atau tanda-tanda digital lain.
Pakar hukum menegaskan perlunya perubahan paradigma dari memercayai bukti kemudian memverifikasinya, menjadi skeptis dan selalu melakukan verifikasi. Ini adalah tantangan besar bagi sistem hukum yang harus memastikan keadilan dan kebenaran di era teknologi canggih.
Referensi:
[1] https://www.forbes.com/sites/larsdaniel/2025/12/08/deepfakes-are-entering-us-courtrooms-judges-say-theyre-not-ready/
[1] https://www.forbes.com/sites/larsdaniel/2025/12/08/deepfakes-are-entering-us-courtrooms-judges-say-theyre-not-ready/
Analisis Ahli
Victoria Kolakowski
"Kasus ini menunjukkan bahwa hakim harus lebih waspada terhadap bukti digital yang mungkin telah dimanipulasi dengan AI."
Stoney Hiljus
"Ada ketakutan yang nyata di kalangan hakim bahwa mereka akan membuat keputusan berdasarkan bukti palsu dan ini dapat berdampak besar pada kehidupan seseorang."
Scott Schlegel
"Bukti AI yang dipalsukan bisa menyebabkan keputusan hukum ekstrem seperti perintah penahanan tanpa dasar nyata."
Erica Yew
"Kemudahan memalsukan dokumen resmi menggunakan AI akan merusak kepercayaan pada sumber bukti yang selama ini dianggap dapat diandalkan."
Paul Grimm
"Proses legislasi lambat sehingga peraturan bukti berbasis AI yang dibutuhkan akan tertunda minimal tiga tahun."
Maura Grossman
"Prinsip 'trust but verify' harus berubah menjadi 'don't trust and verify' karena alat deteksi saat ini tidak dapat diandalkan."
Analisis Kami
"Situasi ini menandai krisis kepercayaan yang serius dalam sistem hukum yang masih mengandalkan metode tradisional verifikasi bukti. Tanpa edukasi teknologi mendalam bagi hakim dan pengacara, serta pengembangan standar hukum yang tepat, potensi pelanggaran hukum dan ketidakadilan akan terus meningkat secara dramatis."
Prediksi Kami
Dalam beberapa tahun ke depan, penggunaan media sintetis sebagai bukti palsu di pengadilan akan semakin sering terjadi, mendorong kebutuhan mendesak akan teknologi deteksi yang lebih canggih dan reformasi aturan hukum untuk menjamin keadilan dan kebenaran dalam proses peradilan.
Pertanyaan Terkait
Q
Apa yang terjadi dalam kasus Mendones v. Cushman & Wakefield?A
Kasus Mendones v. Cushman & Wakefield dibatalkan setelah hakim menemukan bahwa bukti video yang diajukan adalah deepfake.Q
Mengapa hakim Victoria Kolakowski membatalkan kasus tersebut?A
Hakim Victoria Kolakowski membatalkan kasus karena video tersebut menunjukkan tanda-tanda ketidakautentikan, seperti suara yang monoton dan wajah yang tidak jelas.Q
Apa kekhawatiran yang diungkapkan oleh hakim mengenai bukti yang dihasilkan AI?A
Hakim khawatir bahwa mereka dapat membuat keputusan berdasarkan bukti yang tidak nyata yang dihasilkan oleh AI, yang dapat memengaruhi kehidupan seseorang.Q
Apa yang diusulkan oleh Komite Konsultatif Peraturan Bukti AS terkait bukti yang dihasilkan mesin?A
Komite Konsultatif Peraturan Bukti AS mengusulkan aturan baru yang mensyaratkan bukti yang dihasilkan mesin mengikuti standar yang sama dengan kesaksian ahli.Q
Bagaimana beberapa negara bagian mulai merespons masalah bukti sintetis ini?A
Beberapa negara bagian, seperti Louisiana, mulai menerapkan undang-undang yang mengharuskan pengacara untuk memverifikasi keaslian bukti yang mereka ajukan.




