TLDR
Kita harus lebih skeptis terhadap konten yang kita lihat di media sosial. Deepfake telah menjadi alat yang digunakan oleh penipu yang dapat merusak reputasi dan kepercayaan. Meningkatnya kejahatan siber yang didorong oleh teknologi AI memerlukan kewaspadaan dan tindakan dari setiap individu. Teknologi AI kini mampu membuat konten palsu yang sangat realistis, disebut deepfake, yang tidak hanya gambar tapi juga video dan suara. Deepfake ini membuat orang sulit membedakan mana yang asli dan palsu, sehingga banyak penipuan terjadi di media sosial dan platform digital lainnya.Penulis mengalami sendiri dampak mengerikan deepfake saat melihat video teman yang sudah meninggal beberapa tahun lalu mengumumkan kemenangan lotere. Video itu ternyata buatan scammer yang bertujuan menipu dan mengarahkan ke situs palsu, sebuah contoh nyata betapa bahayanya deepfake.Menurut riset, kerugian global akibat kejahatan siber diperkirakan mencapai 10,5 triliun dolar tahun ini dan jumlahnya bisa meningkat mencapai 1 triliun dolar setiap bulan pada tahun 2031. Dengan dana sebesar itu, dunia siber kini seperti ekonomi besar yang mempengaruhi banyak aspek kehidupan.Kejahatan deepfake makin maju dengan meresap ke ujung popularitas publik, seperti video palsu selebritas yang merekomendasikan produk, yang berpotensi merusak reputasi dan memanipulasi publik. Contoh selebriti yang videonya dibuat palsu antara lain Al Roker, Taylor Swift, dan lainnya.Pengguna harus selalu waspada dan skeptis terhadap konten digital yang ditemukan di media sosial. Saran utama adalah tetap menjadi 'pembeli yang waspada' dan rajin memeriksa keaslian konten agar terhindar dari penipuan dan kerugian yang semakin luas akibat teknologi deepfake.