TLDR
Diet campuran jagung beracun dan non-beracun mengubah sayap ulat jagung, meningkatkan kemampuan terbangnya. Hama ulat jagung dapat menyebar lebih efisien, mengancam hasil pertanian lebih luas. Penelitian ini menyarankan bahwa strategi pengelolaan hama saat ini perlu ditinjau kembali untuk menghindari resistensi. Penelitian terbaru dari North Carolina State University menemukan bahwa hama penggerek jagung, Helicoverpa zea, berubah fisik setelah makan jagung hasil campuran antara jagung Bt dan non-Bt. Perubahan ini khususnya terlihat pada sayap mereka yang menjadi lebih panjang, sempit, dan runcing, menyerupai desain pesawat tempur. Sayap dengan bentuk ini membuat mereka lebih kuat terbang dan mampu menghadapi angin kencang.Hama ini bukan hanya menjadi masalah di ladang jagung, tetapi juga di tanaman lain seperti kedelai, tomat, dan kapas. Biasanya, petani menanam jagung Bt yang mengandung racun untuk membunuh hama ini, dan juga mencampurnya dengan jagung non-Bt untuk mengurangi risiko resistensi. Namun, hasil studi menunjukkan bahwa campuran ini justru memicu perubahan fisik pada hama yang memungkinkan mereka menyebarkan resistensi lebih cepat.Sayap hama yang tumbuh dari larva yang makan campuran jagung ini lebih tahan dan aerodinamis, sehingga mereka bisa terbang lebih jauh. Di sisi lain, hama yang makan hanya jagung Bt atau non-Bt menghasilkan sayap yang lebih rapuh dan kurang mampu terbang jauh. Ini adalah bukti bahwa polusi diet pada hama berkontribusi pada evolusi cepat mereka.Dampaknya sangat besar bagi petani karena hama yang dapat terbang lebih jauh bisa membawa gen resistensi ke populasi lain dengan mudah. Ini berarti pengendalian menggunakan jagung Bt bisa menjadi kurang efektif dan akan memerlukan pendekatan baru, seperti strategi pengelolaan resistensi yang lebih cermat atau inovasi teknologi pertanian lainnya.Penelitian ini menegaskan bahwa metode bercocok tanam dengan mencampur jagung Bt dan non-Bt perlu dievaluasi ulang. Jika tidak, hama penggerek jagung bisa menjadi 'super pest' yang lebih sulit ditangani, sehingga menyebabkan kerugian besar dalam produksi pertanian di masa depan.